Awas, Kurang Tidur Berisiko Stroke

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tiptoptens.com

    Tiptoptens.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Hati-hati bila Anda sering bergadang. Sebuah penelitian mengungkapkan kurang tidur dapat meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke. Penelitian tim ahli Chicago Medical School, Amerika Serikat, menemukan bahwa orang dewasa yang tidur kurang dari enam jam pada malam hari secara signifikan memiliki risiko yang besar terserang stroke, serangan jantung, dan gagal jantung kongestif.

    Studi ini melibatkan 3.019 pasien yang berumur lebih dari 45 tahun sebagai partisipan National Health and Nutrition Examination Survey, survei tentang kesehatan rumah tangga Amerika Serikat. Analisis menunjukkan, orang yang sedikit waktu tidurnya ternyata dua kali lebih besar terkena stroke atau serangan jantung dan 1,6 kali lebih besar mengalami gagal jantung kongestif.

    Sebaliknya, seperti dilansir Times of India, Jumat, 30 Maret 2012 lalu, tidur lebih dari delapan jam juga meningkatkan risiko dua kali lebih banyak terkena angina (nyeri dada akibat berkurangnya darah yang mengalir ke otot jantung) dan 1,1 kali risiko terkena penyakit arteri koroner (penyempitan pembuluh darah arteri di jantung).

    Berdasarkan temuan tersebut, Kepala Kardiologi dan Guru Besar Kedokteran Chicago Medical School Rohit R. Arora menegaskan, “Tidur selama 6-8 jam setiap hari memberikan risiko terendah pada penyakit kardiovaskuler dalam jangka panjang."

    AMIRULLAH



    Berita Lainnya:

    30 Pesepeda Ikut Seleksi Srikandi
    Inspirasi  21 Perempuan Akan Tur 21 Kota dengan Sepeda
    Berkuda Bisa Sembuhkan Autisme
    Badai 'Tornado' di Matahari Terekam Kamera 
    Badai Tornado Matahari Besarnya Lima Kali Bumi
    Ponsel Android dari Cina Serbu Pasaran 
    Metamorfosis Batik di Solo  
    Menikmati Es Durian di Jalan Pulau Karam


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.