Traveling Lintas Lima Zona Waktu Bahayakan Atlet  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Atlet loncat indah Inggris Tom Daley. REUTERS/Toby Melville

    Atlet loncat indah Inggris Tom Daley. REUTERS/Toby Melville

    TEMPO.CO, London - Atlet yang melintasi lebih dari lima zona waktu untuk berlaga, dua kali lipat berisiko sakit. Demikian hasil penelitian BMJ Group, lembaga think tank kesehatan. Para peneliti berpendapat kuman yang berbeda dan alergen dari lingkungan baru dituding sebagai penyebabnya.

    Berbeda dengan anggapan umum yang meyakini bahwa perjalanan internasional meningkatkan penyakit karena organisme dalam pesawat terbang, penelitian menemukan fakta berbeda. Menurut Prof Martin Schwellnus, salah seorang penulis laporan tersebut, studi ini menunjukkan ancaman sakit meningkat lebih dimungkinkan karena fakta orang tersebut keluar dari lingkungan normal mereka.

    "Tekanan dari bepergian tampaknya tidak mempengaruhi para pemain karena ketika mereka pulang risiko penyakit tidak berbeda dari normal," katanya. "Perubahan polusi udara, suhu, alergen, kelembapan, ketinggian serta makanan yang berbeda, kuman, dan budaya semua bisa berkontribusi terhadap penyakit saat tiba di tujuan yang jauh."

    Studi ini melacak kesehatan harian dari 259 pemain rugby yang bersaing dalam Turnamen 2010. Selama 16 minggu, tim dari Australia, Afrika Selatan, dan Selandia Baru bermain di tiga negara.

    Untuk pertandingan yang dimainkan di kandang sendiri, sebelum perjalanan internasional, ada 15 kejadian sakit yang dilaporkan dalam 1.000 hari pertandingan. Namun di lokasi di mana pemain mengalami perbedaan waktu lebih dari lima jam dari rumahnya, kejadian sakit meningkat menjadi 33 kali dalam kurun waktu yang sama.

    Saat pertandingan dimainkan kembali di kandang sendiri, setelah perjalanan internasional, angka sakit turun menjadi 11 kali dalam 1.000 hari pertandingan.

    Hampir sepertiga dari semua penyakit yang dilaporkan adalah kondisi pernapasan, diikuti oleh masalah usus, kulit, dan jaringan lunak. "Temuan ini bisa relevan dengan Olimpiade berikutnya dan mungkin berkontribusi terhadap keuntungan bagi tuan rumah," kata Prof Schwellnus.

    MAIL ONLINE | TRIP B



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Korban Konflik Lahan Era SBY dan 4 Tahun Jokowi Versi KPA

    Konsorsium Pembaruan Agraria menyebutkan kasus konflik agraria dalam empat tahun era Jokowi jauh lebih banyak ketimbang sepuluh tahun era SBY.