Puasa Tak Sebabkan Kelahiran Prematur

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas medis memerlihatkan bayi yang diduga dibuang oleh orang tuanya di kamar emergency Rumah Sakit Sakinah Lhokseumawe, Provinsi Aceh. Sabtu (28/7). ANTARA/Rahmad

    Petugas medis memerlihatkan bayi yang diduga dibuang oleh orang tuanya di kamar emergency Rumah Sakit Sakinah Lhokseumawe, Provinsi Aceh. Sabtu (28/7). ANTARA/Rahmad

    TEMPO.CO, Jakarta - Dalam sebuah studi diketahui wanita hamil yang berpuasa selama bulan Ramadan tidak berisiko mengalami kelahiran prematur dibandingkan dengan wanita yang tidak berpuasa. Demikian temuan para ilmuwan Libanon seperti dikutip situs Reuters.

    Para ilmuwan tersebut menemukan tidak ada perbedaan yang signifikan antara kelahiran saat kehamilan belum berusia 37 minggu di antara 201 wanita Beirut yang berpuasa Ramadan dibandingkan dengan 201 wanita lain yang tidak berpuasa. Meskipun demikian, bayi yang dilahirkan wanita yang berpuasa memang berukuran lebih kecil.

    Bagi kaum muslim, berpuasa di bulan Ramadhan adalah sebuah kewajiban. Namun para ilmuwan yang menulis di BJOG, sebuah jurnal internasional untuk obstetrics dan ginekologi, mengatakan bahwa saat hamil bisa saja seorang ibu tidak berpuasa “Jika ada alasan kesehatan yang dicurigai membahayakan kehamilan atau janin”.

    Meskipun begitu, banyak wanita yang mengaku baik-baik saja berpuasa selama Ramadan, kata ketua peneliti Dr. Anwar Nassar via e-mail kepada Reuters Health.

    Nassar, seorang profesor di bidang obstetrics dan ginekologi di American University of Beirut Medical Center, menambahkan bahwa studi lain sudah meneliti mengenai dampak berpuasa selama kehamilan–seperti dalam kasus kelaparan atau eksperimen atas pantangan kalori. Namun ini adalah penelitian yang pertama dalam literatur Inggris yang meneliti mengenai efek puasa Ramadan pada kelahiran prematur.

    Untuk penelitian ini, Nassar dan rekan-rekannya merekrut wanita hamil dari empat pusat kesehatan di sekitar Beirut pada Agustus 2008, menyesuaikan karakteristik dari mereka yang berencana berpuasa selama Ramadan dengan kelompok pembanding yang berisi wanita yang tidak berpuasa. Keseluruhan wanita itu hamil pada trisemester ketiga.

    Para peneliti tetap mengamati kesehatan para wanita tersebut ketika mereka melahirkan dan mencatat berat lahir bayi. Secara umum, bayi dari wanita berpuasa beratnya sekitar 3 kilogram, sedangkan wanita yang tidak berpuasa melahirkan bayi seberat 3,2 kilogram.

    “Meskipun hasilnya meyakinkan bahwa tidak ada risiko kelahiran prematur, tetapi fakta bahwa berat lahir bayi lebih rendah, maka hal ini suatu yang harus diwaspadai,” kata Nassar.

    Salah satu alasan yang mungkin menjadi penyebab berat bayi lebih rendah adalah saat berpuasa para ibu cenderung untuk mengalami penurunan berat badan sekitar 1,6 kilogram, sedangkan wanita yang tidak berpuasa mengalami kenaikan berat badan 2,3 kilogram.

    REUTERS | ARBA’IYAH SATRIANI

    Berita Terpopuler:

    Dinas Kesehatan ''Sentil'' Iklan Klinik Tong Fang  

    Seks di Kampung Atlet Olimpiade

    Kasus Simulator SIM, Pemimpin KPK Disadap Polisi?

    Rhoma Bebas, Ini Komentar Artis Dangdut Jatim

    Van Persie Dicemooh Fans Arsenal

    PKS Tak Konsisten? Ini Tanggapan Anis Matta

    Wanita Ini Tikam Calon Suami di Hari Pernikahan

    Detik.com Tak Bisa Diakses Karena Listrik Meledak

    Pemimpin KPK Tahu Disadap Polisi

    Soal Ceramah, Rhoma Irama Kutip Ucapan Jimly


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lolos ke Piala Eropa 2020, Ronaldo dan Kane Bikin Rekor

    Sejumlah 20 negara sudah memastikan diri mengikuti turnamen empat tahunan Piala Eropa 2020. Ada beberapa catatan menarik.