Sibuk, Saatnya Pantau Anak Lewat Twitter

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Twitter

    Twitter

    TEMPO.CO , Jakarta:Padatnya aktivitas di tengah masyarakat perkotaan seperti DKI Jakarta terkadang menyebabkan orang tua tidak sempat memantau keseharian anak-anaknya. Sehingga terkadang mereka tidak mampu memahami kehidupan sosial anak mereka.

    Lantas bagaimana cara orang tua memantau anak-anaknya? "Orang tua suka tidak suka harus punya akun di jejaring sosial macam twitter atau facebook," kata pengamat sosial dan budaya dari Universitas Indonesia, Devi Rahmawati, ketika dihubungi pada Selasa, 20 November 2012.

    Menurut Devi, akun tersebut bisa dipakai buat memantau keseharian anak mereka. Saat ini kecenderungan seorang anak menuangkan segala masalahnya di jejaring sosial. Bahkan orang tua bisa memantau bagaimana pola pergaulan anak mereka.

    Devi melihat interaksi antara orang tua dan anak di kota besara seperti Jakarta sangat minim. "Pagi buta berangkat larut malam baru pulang," katanya. Sehingga untuk beraktivitas intens dengan anak hanya di akhir pekan. "Itu pun jika tidak ada acara."

    Dengan segala kesibukannya Devi menganggap sebagai suatu kewajiban bagi orang tua memeberi perhatian kepada anaknya. "Di sinilah jejaring sosial memainkan peran positifnya," ujar dia.

    Hanya saja Devi tetap memberi catatan khusus bahwa interaksi secara langsung adalah yang paling ampuh untuk memahami kondisi anak. "Jadi kalau ada waktu manfaatkan waktu dengan anak dan ajari mereka bersosialisasi dengan lingkungan," katanya.

    SYAILENDRA

    Berita Terpopuler
    Lama Menghilang, Pria Ini Tinggal Kerangka 

    Injak Kulit Pisang, Anak 5 Tahun Tewas di Ciliwung

    Hujan di Bogor, Jakarta Waspadai Banjir Kiriman 

    Kopaja Langka di Lebak Bulus, Penumpang Bingung 

    Ratusan Angkot Jakarta Demo Tolak Minibus




     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Krakatau Steel di 7 BUMN yang Merugi Walaupun Disuntik Modal

    Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyoroti 7 BUMN yang tetap merugi walaupun sudah disuntik modal negara.