Jangan Bekam di Sembarang Tempat  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Usman seorang pengobat dengan metode bekam membuat titik-titik di pori-pori kulit punggung pelanggan sebelum memasang alat bekam di Masjid Malioboro, kompleks DPRD Provinsi DI. Yogyakarta, (11/9/2012). TEMPO/Suryo Wibowo.

    Usman seorang pengobat dengan metode bekam membuat titik-titik di pori-pori kulit punggung pelanggan sebelum memasang alat bekam di Masjid Malioboro, kompleks DPRD Provinsi DI. Yogyakarta, (11/9/2012). TEMPO/Suryo Wibowo.

    TEMPO.CO, Jakarta - Di pinggir-pinggir jalan atau di emperan masjid, kerap ditemui orang yang menawarkan praktek bekam. Dengan peralatan seadanya, darah pasien akan disedot pada beberapa titik, umumnya di batang leher belakang atau di punggung, lalu dibuang. Meski ada yang tertarik dibekam, praktek pengobatan yang terkesan dilakukan serampangan ini justru sering memunculkan sejumlah keraguan, mulai dari kebersihan alat hingga kompetensi pelaku pembekaman. Ini pula yang terjadi pada Subhan, seorang warga Kebon Jeruk. “Alatnya steril atau tidak, kita tidak tahu,” kata Subhan pada Tempo, Sabtu, 15 Desember 2012.

    Alih-alih tertarik dibekam, pria 32 tahun ini jadi antipati dan berpikir seribu kali jika ditawarkan dibekam. Masalahnya, ya, itu tadi. “Ini kan praktek pengobatan, kalau dilakukan serampangan seperti itu, justru saya jadi takut,” kata bapak satu anak ini.

    Kegeraman ini juga dirasakan Agus Rahmadi, seorang dokter praktisi bekam. Padahal, kata dia, bekam adalah praktek pengobatan yang bagus untuk menyembuhkan penyakit maupun menjaga kesehatan. Namun itu bisa dicapai dengan memperhatikan aspek medis, seperti melakukan tensimeter, memperhatikan indikasi, maupun kontraindikasi bekam.

    Agus menerangkan, bekam adalah praktek pengobatan yang dilakukan dengan cara membuang darah yang menyumbat pembuluh-pembuluh darah. Sumbatan pembuluh darah ini paling besar terjadi pada kapiler darah. Ini terjadi karena kapiler adalah pembuluh darah dengan diameter paling kecil, yaitu 0,0009 sentimeter, jauh lebih kecil dibandingkan pembuluh darah vena, arteri besar, maupun aorta. Di sisi lain, diameter sel darah merah ternyata jauh lebih besar dibanding kapiler darah, yaitu sekitar 7 mikronmeter.

    “Meski mempunyai diameter yang lebih besar, sel darah merah mempunyai daya elastisitas yang tinggi. Ini yang memungkinkan sel darah merah bisa melewati kapiler darah,” kata Agus dalam acara "Jakarta Islamic Medical Update 2012", yang dihelat Forum Studi Islam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Sabtu, 15 Desember 2012, di aula FKUI, Salemba.

    Nah, daya elastisitas sel darah merah itu sangat bergantung pada usia darah. Usia darah adalah 120 hari. Semakin tua usia darah, daya elastisitasnya semakin rendah. Darah tua inilah yang paling sering membuat penyumbatan di pembuluh darah. “Itulah perlunya bekam,” kata Agus, yang berpraktek di Klinik Sehat. Penyumbatan darah biasa terjadi di daerah-daerah yang kurang bergerak, seperti leher belakang, bahu, punggung, maupun pinggang.

    Selain menghilangkan sumbatan di pembuluh darah, ujar Agus, manfaat lain yang diperoleh dengan bekam antara lain mencegah kekakuan pembuluh darah, meningkatkan penyampaian zat makanan dan oksigen ke semua sel tubuh, mengurangi sisa produk metabolisme tubuh, mengeluarkan racun, merangsang regenerasi sel-sel darah merah baru, merangsang sistem kekebalan tubuh, serta mengurangi beban kerja limpa. “Karena sel darah tua harus dipecah di limpa. Dengan dibuang, otomatis kerja limpa jadi lebih ringan,” kata Agus.

    Indikasi bekam dilakukan untuk orang yang punya darah tinggi, gangguan kolesterol, kekakuan pembuluh darah, bahkan orang yang punya penyakit jantung. Namun bekam juga dilakukan untuk pemeliharaan kesehatan, dengan dilakukan sebulan sekali. Dalam pengambilannya, darah yang dikeluarkan tidak boleh lebih dari 125 cc (kira-kira setengah gelas air minum mineral). Bila diambil melebihi jumlah itu, dikhawatirkan bisa timbulkan syok.

    Namun, ada sejumlah kondisi yang membuat orang sebaiknya tidak melakukan bekam. Kondisi yang disebut sebagai kontraindikasi tersebut, antara lain orang yang mengalami anemia, kulit keriput, pasien yang mengkonsumsi obat pengencer darah, penyakit kulit kronis, diabetes dengan gula darah tinggi, hipotensi, kelainan darah, bengkak, kelainan pembuluh darah, trombosit rendah, serta hipertensi maligna (di atas 190/110 mmHg).

    “Itulah sebabnya bekam harus dilakukan dengan memperhatikan aspek medis. Bahkan sebelum bekam harusnya darah ditensi dulu. Praktek bekam di pinggir jalan tidak lakukan itu,” ujar Agus.

    AMIRULLAH

    Terpopuler:
    Spearfishing, Cara Ramah Berburu Ikan

    Permainan Warna Urin Melatih Anak Banyak Minum

    Pengobatan Unik Mesir Kuno untuk Sakit Gigi

    Lily Yulianti Luncurkan Buku Kumpulan Cerpen

    Agar Si Kurus Terhindar dari Osteoporosis

    Para Perokok Alami Gangguan Tidur


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Upaya Pemerintah Mengolah Sampah Menjadi Bahan Baku PLTSa

    Pemerintah berupaya mengurangi persoalan sampah dengan cara mengolahnya menjadi energi penggerak PLTSa di duabelas kota di Indonesia.