Mengapa Ngemil di Malam Hari Buruk Buat Kesehatan?  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • AP/Watson-Guptill , Brandi Simons

    AP/Watson-Guptill , Brandi Simons

    TEMPO.CO, Jakarta - Mengkonsumsi semangkuk sereal manis di malam hari kemungkinan berdampak lebih buruk dibandingkan dengan jika mengkonsumsinya di pagi hari. Alasannya, tubuh cenderung mengubah makanan tersebut menjadi lemak, sementara di siang hari makanan itu diubah menjadi energi.

    Hasil studi yang dipublikasikan pada 21 Februari 2013 di jurnal Current Biology menemukan bahwa kemampuan tikus untuk mengatur gula darah mereka bervariasi sepanjang hari. Selain itu, mengganggu jam biologis mereka, seperti waktu untuk tidur dan terjaga,, menyebabkan mereka menjadi lebih gemuk. Temuan ini juga menjelaskan mengapa para pekerja shift malam lebih cenderung terkena diabetes dan obesitas.

    "Mengganggu jam biologis Anda akan mengganggu metabolisme Anda karena ada kecenderungan untuk menimbun lemak," ujar penulis hasil riset Carl Johnson, seorang kronobiologis di Vanderbilt University seperti dikutip LiveScience. Bahkan, sambung dia, meskipun dengan jumlah kalori yang sama.

    Beberapa studi sebelumnya menunjukkan bahwa pekerja shift malam lebih cenderung untuk bertambah berat badannya dan lebih cenderung terkena diabetes. Hasil riset lain juga menunjukkan bahwa tikus (yang merupakan binatang nokturnal) lebih banyak menghasilkan lemak jika mereka makan sepanjang hari, meskipun dengan asupan kalori yang sama. Para ilmuwan menduga bahwa jam biologis memegang peranan penting meskipun persisnya bagaimana masih merupakan misteri.

    Hasil temuan riset terbaru ini menunjukkan bahwa ngemil di malam hari bisa berdampak lebih buruk pada orang ketimbang makan di awal waktu, ungkap Johnson. Hasil penelitian ini mengesankan Satchidananda Panda, seorang pakar biologi dari Salk Institute di La Jolla, Calif, yang tidak terlibat dalam riset ini. "Hasil ini untuk pertama kalinya menunjukkan bahwa ada ritme sirkadian dalam sensitivitas insulin pada binatang dan kemungkinan juga terjadi pada manusia," kata dia.

    Karena penelitian-penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa ada ritme harian manusia di dalam glukosa darah, meskipun dengan infusi gula yang konstan, para peneliti mencurigai bahwa sensitivitas insulin bertambah dan berkurang sepanjang hari, ujar dia.

    LIVESCIENCE | ARBA'IYAH SATRIANI

    Berita terpopuler lainnya:
    Gunung Semeru Bukan Untuk Pendaki Pemula

    Jangan Andalkan Mi Instan Saat Naik Gunung

    Cegah Linglung, Pendaki Amatir Perlu Latihan Fisik

    Bayi Caesar Lebih Berisiko Alergi

    Tidur Nyenyak Malam Hari Tingkatkan Memori Anak

    Cara Terbaik Mengolah Sayuran

    Ancaman bagi Pendaki Gunung


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Menghadapi Bisa Ular dengan Menggunakan SABU

    Untuk mengatasi bisa ular, dokter Tri Maharani memaparkan bahwa bisa ular adalah protein yang hanya bisa ditawar dengan SABU polivalen.