Jumat, 23 Februari 2018

Kisah Mushadi, Sang Penjaga Kamar Mayat

Oleh :

Tempo.co

Minggu, 7 April 2013 05:14 WIB
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kisah Mushadi, Sang Penjaga Kamar Mayat

    Ilustrasi Mayat

    TEMPO.CO , Jakarta:Mushadi lagi libur. Ia tidak mendapat panggilan dari Rumah Sakit Bhayangkara TK. I. R. Said Sukanto sejak pagi. Pekerjaannya adalah menjaga dan memandikan mayat. Pekerjaan itu menjadi bagian hidupya selama 30 tahun. Meski pensiun sebagai pegawai rumah sakit pada 2002, ia tetap diperbantukan hingga sekarang, karena pengalamannya.

    Sebelum menjadi penjaga mayat, pria kelahiran Yogyakarta ini merupakan pegawai serabutan di rumah sakit itu sejak 1968. Mulai dari jadi tukang sapu sampai tukang parkir ia jabani. Beberapa tahun kemudian barulah Mushadi dekat dengan bau formalin dan kapur barus.

    Selama menjadi penjaga kamar mayat, segudang pengalaman dialaminya. Yang paling berkesan tentu saja ketika dirinya memandikan jenazah dua teroris ternama: Dr Azhari dan Nurdin M top beberapa tahun lalu. Awalnya, ia tidak percaya menangani jenazah mereka, yang selama ini ia lihat di layar kaca."Jenazahnya dingin dan sudah membusuk," ujarnya.

    Waktu itu, tanpa sengaja, pergelangan tangannya terciprat air jenazah Nurdin M Top. Alhasil, ia mengalami gatal-gatal, meski sudah memakai sarung tangan. Tapi ia tidak berpikir itu sebuah pertanda jelek atau baik. Ia mengatakan selalu memperlakukan semua jenazah secara sama.

    Baginya, memandikan dengan tubuh hancur tak berbentuk, sudah bukan hal aneh. Yang paling diingatnya adalah ketika memandikan jenazah korban jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet 100 di Gunung Salak, Bogor, Jawa Barat, tahun lalu. Saat itu dirinya terkejut. Bukan karena aromanya menyengat hidung. Melainkan "keder" menyusun bagian tubuh korban yang terpisah. Seperti main "puzzle", ia pun menyusun kaki, tangan dan leher agar sesuai letaknya sebelum dimandikan.

    Mayat yang datang di RS Polri, kata dia, tidak pernah mengenal waktu. Meski sudah lelap tertidur di tengah malam, kadang ada saja petugas datang membawa mayat anonim. Kebanyakan, yang matinya karena kecelakaan, seperti dilindas truk atau kereta api.

    Sore itu, Tempo diajaknya mengunjungi kamar jenazah tempatnya bekerja. Uniknya, Mushadi memiliki jalur sendiri menuju kamar mayat. Setiap berangkat kerja, ia selalu melompat pagar tembok samping rumah sakit, yang terletak tidak jauh dari rumahnya.

    Tidak ada lima menit, ia langsung tiba di belakang kamar jenazah. "Sudah puluhan tahun saya bekerja dengan melompat pagar," kata Mushadi yang memakai kaos dan peci putih tertawa.

    Di dalam kamar mayat itu ada kereta dorong mayat dan peti mati yang tersusun rapi di pojokkan. Kamar jenazah itu dibagi dua. Satu untuk tempat memandikan, dan yang satunya lagi untuk bagian forensik. Di bagian forensik itu ada tempat penyimpanan mayat dan ruangan terbuka berukuran 4x4 meter. Menurut Mushadi, ruangan itu juga bisa dijadikan tempat pemandian."Tidak seram kan?" katanya tersenyum. (Baca Lengkap: Topik di Koran Minggu)

    HERU TRIYONO

    Topik Terhangat
    Agus Martowardojo || Serangan Penjara Sleman || Harta Djoko Susilo || Nasib Anas

    Baca Tempo
    Cincin Penghilang Dengkuran
    Bocah 14 Tahun Inggris Sudah Tonton Video Porno

    Mei, Ivan Gunawan Tawarkan Busana untuk Si Besar

    Tip Pakaian Wanita Besar Ala Ivan Gunawan


     

     

    Lihat Juga


    Selengkapnya
    Grafis

    Inilah Wakanda dan Lokasi Film Black Panther Buatan Marvel

    Marvel membangun Wakanda, negeri khayalan di film Black Panther, di timur pantai Danau Victoria di Uganda. Sisanya di berbagai belahan dunia.