Mengenal Penyakit Kusta

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ali membuat kaki serta tangan palsu untuk para penderita kusta dan penyandang cacat lainnya di Tangerang (16/4). TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat

    Ali membuat kaki serta tangan palsu untuk para penderita kusta dan penyandang cacat lainnya di Tangerang (16/4). TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat

    TEMPO.CO, Jakarta - Penyakit kusta atau lepra (leprosy) merupakan penyakit yang menyebabkan kerusakan pada kulit, saraf-saraf, anggota gerak, dan mata penderitanya. Pada tahap tertentu, kusta bisa menyebabkan kemunduran mental, koma, bahkan kematian.

    Kusta disebabkan oleh Mycrobacterium leprae dan Mycrobacterium lepromatosis. Paparan kedua bakteri ini akan menimbulkan gejala awal kusta, misalnya ada bercak putih seperti panu di kulit, adanya bintil kemerahan, benjolan pada wajah, serta pada kasus tertentu bisa menyebabkan rambut rontok.

    Gejala yang cenderung ringan ini sering kali diabaikan oleh pasien sehingga penyakit telanjur menyebar dan semakin sulit disembuhkan. Gejala kemudian akan berlanjut menyerang saraf. Anggota tubuh akan merasa kesemutan atau kaku. Bahkan tak jarang penderita kusta bisa mengalami kelumpuhan.

    Kusta, atau yang juga dikenal dengan penyakit Hansen--penemu Mycrobacterium leprae bernama Gerhard Armauer Hansen, umumnya menyerang negara-negara berkembang. Indonesia menduduki peringkat ketiga sebagai penderita kusta terbanyak, di bawah India dan Brasil.

    Jumlah penderita kusta di Indonesia masih cukup tinggi dan terus mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya. Tahun 2012, jumlah penderita kusta terdaftar sebanyak 23.169 kasus dan jumlah kecacatan tingkat dua di antara penderita baru sebanyak 2.025 orang atau 10,11 persen. Jika dibandingkan tahun 2011, terjadi peningkatan dengan jumlah penderita kusta mencapai 20.023 kasus.

    Hingga saat ini, kusta masih menjadi momok yang mendera dunia. Meski obat kusta sudah ditemukan sejak tahun 1940-an dan berkembang pada tahun 1980-an, masa penyembuhan yang cukup lama sering kali membuat pasien justru kebal terhadap obatnya.

    Belum diketahuinya penularan kusta juga turut menjadi masalah besar. Namun rata-rata penderita kusta diketahui terkena penyakit ini lantaran melakukan kontak jangka panjang dengan penderita kusta lainnya.

    ANINGTIAS JATMIKA | BERBAGAI SUMBER


    Terpopuler:


    Jenderal Ini Menangis Kunjungi Korban Banjir
    Gempa Kebumen, Pantai Selatan Jadi Zona Aktif
    Gempa Kebumen, Ada Ular Berjalan di Bawah Tanah
    Klaim Ical Soal Pak Harto dan Golkar Berlebihan


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Korban, Tersangka, Barang Bukti, dan Lokasi Kerusuhan 22 Mei 2019

    Kerusuhan 22 Mei 2019 di Ibu Kota bermula dari unjuk rasa penolakan hasil pilpres 2019 di depan gedung Bawaslu, Jakarta, sejak sehari sebelumnya.