Jumat, 16 November 2018

Waspada Risiko Jangka Panjang Abu Vulkanik Kelud  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bukhori, 39 tahun, pemilik usaha konveksi melihat kondisi rumah usahanya yang rusak akibat guyuran abu vulkanik letusan Gunung Kelud di desa Pandansari, Malang, (18/2). Erupsi Gunung Kelud, selain merusak bangunan  juga melumpuhkan perekonomian warga desa. TEMPO/Fully Syafi

    Bukhori, 39 tahun, pemilik usaha konveksi melihat kondisi rumah usahanya yang rusak akibat guyuran abu vulkanik letusan Gunung Kelud di desa Pandansari, Malang, (18/2). Erupsi Gunung Kelud, selain merusak bangunan juga melumpuhkan perekonomian warga desa. TEMPO/Fully Syafi

    TEMPO.CO, Jakarta - Debu vulkanik halus dapat bertahan cukup lama melayang di udara. Capaiannya diperkirakan bisa menjangkau ratusan hingga ribuan meter. Menurut Ceva W. Pitoyo, dokter spesialis penyakit dalam, umumnya orang beranggapan bila debu vulkanik yang mencapai jarak jauh tidak terlalu membahayakan. Alasannya, debu itu sangatlah halus.

    "Justru debu sangat halus itu yang patut diwaspadai," kata Ceva, ketika ditemui Tempo di kawasan Salemba, Selasa, 18 Februari 2014. "Sebab, debu itu mengandung partikel kecil yang secara tidak langsung dapat merangsang peradangan di saluran napas."

    Masyarakat yang menghirup abu vulkanik, baik dalam tekstur kasar atau halus, memiliki risiko. Namun, variasi bentuk penyakit atau antisipasinya berbeda antara keduanya.

    Masyarakat yang berada dekat dengan lokasi bencana debu vulkanik lebih banyak mengalami kondisi bersifat fisik, seperti trauma benturan. Bisa juga kondisi infrastruktur yang dapat menyebabkan kecelakaan, misalnya atap rumah yang ambruk karena tidak kuat menahan debu yang tebal dan berat, debu yang membuat jalanan licin, dan menghalangi pemandangan.

    "Pada tubuh secara langsung meyebabkan batuk, sakit tenggorokan dan mata perih," ujar dokter berperawakan kecil ini.

    Selain itu, tim dokter dari Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) meminta masyarakat untuk lebih berhati-hati ketika memasuki dua-tiga pekan setelah bencana letusan gunung. Sebab, paparan yang sedikit tetapi terus-menerus menyebabkan penyakit paru atau gangguan pernafasan yang cukup akut. 

    "Hal ini juga bisa terjadi di daerah yang cukup jauh dengan erupsi gunung," kata Ceva.

    "Bahaya serius yang harus diperhatikan penduduk di daerah berjarak dekat adalah adanya gas beracun, seperti H2S dan CO, yang juga bisa mematikan."

    AISHA SHAIDRA

    Terpopuler:
    Bahaya Narkoba Bisa Ganggu Psikologis Penggunanya
    Gaya Seksi Lingerie Renda Swarovski
    Cara Membersihkan Rumah dari Debu Vulkanik
    Awas! Tak Semua Masker Aman dari Debu Vulkanik
    Bahaya Abu Vulkanik Bisa Mematikan

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kalender Lengkap Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama 2019

    Pemerintah telah merilis jadwal soal hari libur nasional dan cuti bersama tahun 2019. Sudah siap merancang kegiatan untuk mengisi libur?