Kisah Penikmat Dine-Out

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bagikan Berita
    Restoran La Luce di SCBD dianggap Will sebagai restoran Italia terbaik di Jakarta. Restoran ini tidak hanya menyajikan masakan Italia, tapi juga masakan Eropa. Tempat, makanan, dan pelayanannya, menurut Will, sangat bagus. Lalucejakarta.com

    Restoran La Luce di SCBD dianggap Will sebagai restoran Italia terbaik di Jakarta. Restoran ini tidak hanya menyajikan masakan Italia, tapi juga masakan Eropa. Tempat, makanan, dan pelayanannya, menurut Will, sangat bagus. Lalucejakarta.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Nonie Bates, tercatat sebagai salah satu penduduk Jakarta yang kerap melakukan dine-out atau makan di luar. Nonie melakukan kebiasaan itu tiga kali dalam seminggu.

    "Untuk harga setiap makan, bervariasi tergantung pilihan restorannya. Mulai Rp 75 ribu sampai Rp 700 ribu untuk setiap porsi dan satu orang," kata konsultan di Blue Points yang rajin dine-out di hari kerja Rabu hingga Jumat ini. Untuk akhir pekan, biasanya Sabtu atau hari Minggu bersama keluarganya.

    Anna Yulia Firman dan Rizal adalah pasangan yang juga kerap makan di luar, terutama pada akhir pekan. "Saya, suami, dan putra kami sering menyambangi tempat-tempat makan yang direferensikan teman, atau kami memiliki fasilitas dari kartu kredit yang sering menginformasikan tentang tempat makan baru di Jakarta," kata wanita berusia 43 tahun ini kepada Tempo.

    Kepala Bagian Implementasi Produk Kas di Bank Permata, Jakarta, ini menjelaskan biaya yang dihabiskan untuk makan di luar itu minimal seratus ribu rupiah untuk setiap orang.(Baca : Aplikasi Pencarian Isikota Meluncur di Versi Web)

    Pada hari kerja, mereka makan di restoran bersama klien atau rekan kerja. Di akhir pekan, makan dengan keluarga. Inilah yang ditangkap oleh Kim dalam surveinya. Berbeda dengan New York atau kota besar lainnya, di mana penduduknya lebih suka pergi makan malam sendiri atau berdua, di Jakarta, sebagian besar dari mereka senang berkelompok. “Minimal terdiri dari empat orang dan bahkan lebih,” ujarnya.

    Ada banyak hal yang menyebabkan orang lebih sering makan keluar. Salah satunya adalah kemacetan. Kemacetan parah di hari kerja membuat banyak orang pulang setelah matahari tenggelam. Mereka lebih senang makan malam di luar sebelum kelaparan di jalan. “Kemacetan bisa dilihat sebagai salah satu pemicu dine-out,” ujar Kim. Namun ia mengatakan, jika faktor kemacetan bisa dihilangkan, bukan tak mungkin jumlah tempat makan dan kunjungan orang Indonesia lebih banyak lagi.

    Internet juga dianggap mempengaruhi fenomena dine-out di Jakarta. “Banyak sekali orang yang mencari referensi melalui Internet sebelum memutuskan untuk makan di luar,” kata Kim. Fenomena food blogger pun mulai mempengaruhi referensi publik sebelum memutuskan untuk pergi makan.

    HADRIANI P | QARIS TAJUDIN| SUBKHAN | KURNIAWAN

    Berita Terpopuler
    Ternyata Ada Kanker yang Dapat Disembuhkan 
    Gerakan Move On untuk Pendidikan Anak Indonesia 
    Memberi Kesempatan Anak Autis Berkarya dan Bekerja 
    Berbagai Manfaat Keju Bagi Tubuh  


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pentingnya Air Putih Setelah Anda Makan

    Makan tentu tak nikmat bila tidak minum air putih setelahnya. Selain nikmat, air putih juga memiliki khasiat yang baik bagi kesehatan tubuh.