Makan Di Luar Sebagai Sebuah Tradisi?

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bagikan Berita
    Suasana di restoran Elysee, Kemang, Jakarta. Restoran ini mengusung konsep fusion, paduan menu Barat dan Asia. TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo

    Suasana di restoran Elysee, Kemang, Jakarta. Restoran ini mengusung konsep fusion, paduan menu Barat dan Asia. TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo

    TEMPO.CO, Jakarta - Yuswohady dari Inventure melihat fenomena ini lebih dalam lagi. Menurut dia, ketika masyarakat sudah maju, perkembangan sosialnya ada tiga: peningkatan edukasi, kemakmuran, dan relasi sosial.

    Berkaitan dengan dine-out, dia melihatnya sebagai bagian dari hal terakhir: relasi sosial. Ketika kehidupan makin kompleks dan sibuk, koneksi sosial makin renggang. Dulu, orang masih punya banyak waktu sehingga bisa makan siang dan makan malam bersama keluarga setiap hari. Kini, hal itu tak mungkin dilakukan.

    "Tapi manusia secara naluriah adalah makhluk sosial, mereka butuh bersosialisasi. Maka, diciptakanlah selebrasi, perayaan, dengan makan bersama di luar pada akhir pekan," kata Yuswohady. "Sebetulnya ini tragis, bagaimana sebuah keluarga dalam satu rumah perlu selebrasi sekadar untuk makan bersama. Tapi itulah yang terjadi."

    Nonie mengakui hal tersebut. "Inti dari makan di luar adalah mencari suasana. Saat ini, karena sedikitnya masyarakat urban memiliki waktu bersama dengan keluarga atau pasangannya, maka mereka memilih dine-out."

    Pergi berombongan ini juga menjelaskan mengapa restoran dengan menu multinasional berada di deretan teratas restoran favorit di Jakarta Dine Index. “Karena dengan mudah bisa mengakomodasi berbagai macam selera anggota rombongan itu,” kata Kim lagi.

    Bagaimana dengan posisi restoran Indonesia dalam survei itu? “Masih terlalu sedikit restoran Indonesia yang bermain di kelas atas, sebut saja seperti Loro Djonggrang, Harum Manis, Bebek Bengil, ataupun misalnya Te Sa Te—grup Sate Khas Senayan--yang baru muncul belakangan membidik pasar menengah,” ujar Kim. Kebanyakan restoran Indonesia justru bermain di segmen menengah ke bawah.

    Menurut Yuswohady, pilihan ini sesuai dengan perubahan preferensi mereka. "Kelas menengah ini makin pintar dengan pengetahuan yang luas, sehingga selera mereka berubah dan mereka mampu membelinya," ujar penulis sekitar 40 buku mengenai pemasaran, termasuk Crowd: Marketing Becomes Horizontal, ini.(Baca :Kisah Penikmat Dine-Out)

    Ia juga mengutip konsep kebutuhan dan motivasi manusia dari Abraham Maslow. Begitu suatu masyarakat menembus angka psikologis GDP per kapita US$ 3.000, seperti kelas menengah Indonesia, maka kebutuhan dasar sudah lewat. "Mereka mulai naik ke atas, masuk ke kebutuhan yang lebih maju, seperti penghargaan diri, status sosial, kebutuhan bersosialisasi, dan sebagainya."

    Artinya, seperti kata Steven Kim, dine-out di Jakarta bukan sekadar makan. “Jadi, ini bukan lagi soal berapa besar porsi yang disantap, tapi juga soal rasa, ambience, serta konsep restoran,” kata Kim. Itulah yang menjelaskan kenapa keputusan orang untuk memilih sebuah restoran bukan karena telah membaca rekomendasi makanannya, melainkan lebih kepada faktor visual: presentasi makanan dan interior ruangannya.

    HADRIANI P | QARIS TAJUDIN| SUBKHAN | KURNIAWAN

    Berita Terpopuler
    Ternyata Ada Kanker yang Dapat Disembuhkan 
    Gerakan Move On untuk Pendidikan Anak Indonesia 
    Memberi Kesempatan Anak Autis Berkarya dan Bekerja 
    Berbagai Manfaat Keju Bagi Tubuh  


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Fitur Stiker

    Fitur "Add Yours" Instagram dapat mengundang pihak yang berniat buruk untuk menggali informasi pribadi pengguna. User harus tahu bahaya oversharing.