Lapang Dada dalam Merawat Orang Tua Manula

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bagikan Berita
    sxc.hu

    sxc.hu

    TEMPO.CO, Jakarta - Baru setahun Emilia Siane tinggal bersama ayahnya di Depok. Sebelumnya, perempuan yang bekerja di bidang desain grafis ini tinggal di rumah sendiri. Namun, karena ayahnya sudah berusia 86 tahun dan mengalami berbagai gangguan kesehatan, seperti pendengaran dan penglihatan, Emilia yang masih lajang diminta menemani sang ayah.

    “Sempat syok menghadapi ayah dengan segala kerewelannya, sensitif, dan maunya serba dituruti,” kata Emilia. Keduanya selalu ribut dalam berbagai hal, misalnya urusan peliharaan ikan lele, makanan yang menunya serba daging, hingga kebiasaan berantakan sang ayah.

    Namun, perlahan, ia bisa “meladeni” ayahnya. "Semua butuh proses. Bertahun-tahun enggak tinggal bersama ayah," katanya.

    Pengalaman “seru” juga dikisahkan Intan Ophelia. Perempuan yang dikenal sebagai astrolog ini merasakan repotnya tinggal bersama ayahnya, dan merawatnya selama empat tahun. Dua tahun lalu, sang ayah terkena stroke, dan meninggal bulan lalu pada usia 82 tahun. (Baca: Kelebihan Protein Berbahaya Bagi Manula)

    Pada tahun pertama tinggal bersama ayahnya, Intan sempat kaget. Sosok ayahnya yang selama ini dikenal intelek dan berwibawa tiba-tiba seolah menjadi orang lain. "Beliau jadi mudah marah, tak mau diprotes, dan sensitif bukan main. Salah sedikit saja semua orang dimarahi," ujarnya.

    Namun, setelah banyak mengobrol dan memahami karakter orang lanjut usia akan kembali seperti anak-anak, Intan pun menerima dengan lapang dada. "Akhirnya, saya bersyukur. Ini rahmat yang tak ternilai, diberi kesempatan merawat dan menemani beliau hingga tutup mata."

    Konselor dan motivator pribadi, Ainy Fauziyah, menyatakan berdasarkan pengalaman menangani masalah seperti ini, para orang tua yang sudah lanjut usia memang biasanya kembali seperti anak kecil. Mereka mengalami masalah post power syndrome dan menjadi lebih rewel. Apa pun yang dikerjakan para “perawatnya” dia anggap salah.

    Jadi, pada awalnya, pasti ada kekagetan. "Intinya, merupakan ujian kesabaran dan kelapangan dada dalam merawat dan melayani orang tua," ujar perempuan berjilbab itu.

    Namun, lama-lama, akan bisa dipahami. “Ini adalah hidup yang siklusnya berulang,” katanya. Saat kita kecil dulu, kata Ainy, orang tua yang merawat dan melayani kita dengan segala kerewelan kita. Kini, sebaliknya. ”Yang utama, sebenarnya para orang tua tersebut hanya ingin masih dianggap penting, mampu, dan diperhatikan.”

    HADRIANI P.

    Berita Terpopuler:
    Almira Yudhoyono Nyanyi, Banyak Respons di Instagram
    Lingerie Ini Bisa Menyala di Ruang Gelap
    Turunkan Berat Badan dengan Akupunktur
    Agar Cerpen Laku Jual


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pentingnya Air Putih Setelah Anda Makan

    Makan tentu tak nikmat bila tidak minum air putih setelahnya. Selain nikmat, air putih juga memiliki khasiat yang baik bagi kesehatan tubuh.