Memotret Cepat dengan Ponsel  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga berfoto di Taman Cempaka yang kini menjadi taman tematik fotografi di Bandung, Jawa Barat (21/12). TEMPO/Prima Mulia

    Warga berfoto di Taman Cempaka yang kini menjadi taman tematik fotografi di Bandung, Jawa Barat (21/12). TEMPO/Prima Mulia

    TEMPO.CO, Jakarta - Telepon seluler berkamera mudah dan cepat digunakan, tapi belum bisa mengatasi kelebihan kamera biasa.

    Ada sebuah foto di laman utama fotografi Sidewalker.asia pada pekan lalu. Foto berjudul Untitled karya Indra Rizkiawan itu berupa sebatang pohon mati di dalam pot dengan latar belakang lukisan tembok bergambar kupu-kupu, ilalang, dan bunga-bunga liar. “Itu semacam pengukuhan bahwa foto saya akhirnya bisa masuk ke galeri tersebut,” kata pria 33 tahun itu. Sidewalker.asia adalah galeri karya fotografi jalananan (street photography) yang menampilkan karya terpilih fotografer Indonesia.

    Indra membuat foto itu pada Februari lalu dengan kamera dari telepon pintarnya, iPhone 4S. Ia menangkap objek tersebut ketika menjenguk kerabatnya di sebuah rumah sakit di kawasan Kemang, Jakarta Selatan. "Kalau pakai kamera SLR mungkin bisa dimarahi," kata moderator laman situs Indonesian Street (Mobile) Photography (ISTRIE). Kamera SLR (single-lens reflex) yang disebut Indra adalah jenis kamera yang memiliki berbagai pengaturan dan biasa dipakai fotografer profesional. (Baca: Apa Itu Fotografi Jalanan?)

    Penggunaan kamera telepon yang berukuran kecil itu membuat fotografer tidak terlalu kentara ketika mengambil gambar. Apalagi sekarang orang memotret berbagai objek dengan kamera telepon sudah jadi pemandangan umum di mana-mana. Ini adalah salah suatu hal penting dalam kegiatan fotografi jalanan, yang umumnya memotret objek secara diam-diam untuk mendapatkan foto kegiatan manusia yang alamiah.

    Selain itu, kamera telepon juga lebih cepat dan mudah dioperasikan siapa pun. Itu sebabnya banyak fotografer yang memutuskan untuk menggunakan kamera telepon untuk memotret. Komunitas mereka pun tumbuh di mana-mana, seperti Iphonesia dan Komunitas Fotografi Ponsel (Kofipon) serta komunitas di tingkat daerah, seperti Mobile Photography Banjarmasin.

    Namun, komunitas-komunitas itu tak mengkhususkan diri pada fotografi jalanan. Ini berbeda dari ISTRIE, yang sejak berdiri adalah pada April 2012 memang memusatkan perhatiannya pada fotografi jalanan. Komunitas ini berdiri atas gagasan beberapa fotografer profesional, seperti Prass Prasetio, Zoelcholid, Bamos, Erik Mahendra, dan Akbar Makarti. Dari mailing list mereka, tercatat jumlah anggotanya kini mencapai 222 orang.

    Mereka juga telah melansir buku elektronik The Archive: From The Two-Thousand-Thirteen Camera Rolls yang memuat sekitar 80 foto karya anggotanya.

    DIANING SARI

    Berita Terpopuler


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aman dan Nyaman Liburan Lebaran Idul Fitri 1442 H

    Ada sejumlah protokol kesehatan yang sebaiknya Anda terapkan kala libur lebaran 2021. Termasuk saat Salat Idul Fitri 1442H