Belanja Pakaian, Pria Indonesia Cenderung Pemilih  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bagikan Berita
    Seorang model membawakan busana pria kreasi Prada koleksi Fall-Winter 2014 pada Milan Fashion Week, di Milan, Italia (12/1). (AP Photo/Luca Bruno)

    Seorang model membawakan busana pria kreasi Prada koleksi Fall-Winter 2014 pada Milan Fashion Week, di Milan, Italia (12/1). (AP Photo/Luca Bruno)

    TEMPO.CO, Jakarta - Sebagian besar pria Indonesia sangat pemilih saat berbelanja pakaian. Mereka biasanya penuh dengan pertimbangan untuk membeli sepotong kemeja ataupun celana.

    “Beberapa klien kami biasanya akan mikir lama dulu sebelum memutuskan untuk beli. Biasanya mereka bilang, 'Kira-kira gue pantes enggak ya pakai pakaian kayak gini',” ujar desainer ROCKInc Indonesia, Denny Nugraha, kepada Tempo, Kamis, 5 Juni 2014.

    ROCKInc merupakan produsen kemeja pria dengan motif print yang sangat unik. Mulai motif bunga, mobil-mobilan, hingga boneka beruang. Itu menjadi sebab banyak pria perlu waktu lama menimbang sebelum membeli. “Tapi sekalinya cocok, mereka bisa beli tujuh, atau bahkan sepuluh sekaligus,” kata Zen Sutawijaya, rekan Denny.

    Lain lagi dengan cerita Jacky Rusli, desainer sekaligus pemilik label Adamist. Adamist merupakan butik kemeja lokal yang menyasar pasar high end, dan baru membuka gerai perdananya di Pacific Place Mall. (Baca: Gaya Narsis Ala Moschino dan Jeremy Scott)

    Jacky sering kali heran dengan tingkah kliennya saat memilih pakaian. “Saya tanya, 'Ngapain sampai ngangkat-ngangkat tangan segala? Kok, kayak olahraga?',” ujar Jacky sambil tertawa. Menurut Jacky, masih banyak pria Indonesia yang memiliki kecenderungan salah memilih ukuran pakaian.

    “Biasanya mereka sering mengambil satu size di atas ukuran asli mereka,” kata Jacky. Padahal ukuran kemeja yang ngepas justru lebih baik dan tampak pantas. “Tapi mereka justru merasa tidak nyaman. Setelah dikasih tahu, baru ngerti kalau ukuran baju harusnya tidak boleh kegedean,” ujarnya.

    Kisah nyaris serupa juga disampaikan pemilik butik jas Brillington & Brothers, Audrey Jessica dan Ronald Makasutji. “Kebanyakan memang masih belum paham soal fitting,” ujar Audrey. Untuk itu, kadang butuh waktu cukup lama untuk berbicara dengan para klien dan memastikan mereka mendapatkan ukuran yang nyaman dan pantas. “Biasanya, kalau ukuran tubuhnya spesial, kami sarankan untuk bespoke—dijahit sesuai dengan ukuran tubuh,” kata Ronald. Apalagi jualan utama Brillington & Brothers adalah produk jas.

    Namun Audrey kadang juga harus bersabar jika bertemu dengan pelanggannya. “Ada yang sudah konsultasi berjam-jam mau bikin jas, tapi ternyata enggak jadi,” tuturnya. Namun itu tidak masalah bagi Brillington & Brothers. “Kami maklum kalau ternyata mereka sangat pemilih dan punya pertimbangan lain,” katanya. “Lagipula masyarakat Indonesia, khususnya pria, masih perlu dididik untuk berpakaian dengan benar.”

    SUBKHAN

    Berita Terpopuler:
    Kenali Penyebab Kerusakan Ginjal 
    Prabowo dan Hatta, Beda Pakaian Beda Saku 
    Gara-gara Gadget, Warga Kota Terancam Neuropati 
    Dekranas Dorong Promosi Kerajinan Anyaman


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Prosedur dan Syarat Perjalanan selama PPKM Level 3 Nataru

    Pemerintah mengeluarkan syarat dan prosedur perjalanan selama PPKM saat Natal dan Tahun Baru. Perjalanan ke masuk dari luar negeri juga diperketat.