Ulos Jadi Lambang Status Sosial Seseorang

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bagikan Berita
    Mari Pangestu, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (tengah) melihat kain tenun saat Peluncuran Buku

    Mari Pangestu, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (tengah) melihat kain tenun saat Peluncuran Buku "Perjalanan Tenun oleh Merdi Sihombing" di Palalada Grand Indonesia, Jakarta (12/8). Isitimewa

    TEMPO.CO, Jakarta - Merdi Sihombing tercatat sebagai salah satu perancang yang melestarikan kain-kain lokal atau tenun Indonesia. Kecintaan Merdi terhadap tenun Indonesia memotivasinya meluncurkan buku Perjalanan Tenun dan Pameran Karya Satu Dekade Perjalanan Merdi Sihombing, pada Selasa, 12 Agustus 2014, yang berlangsung di Restoran Palalada, di Alun-alun Grand Indonesia, kawasan Thamrin, Jakarta Pusat. Ulos, merupakan kain lokal yang sering dipakai Merdi dalam menyajikan karya-karyanya.

    Alumni Esmod Jakarta dan Jurusan Kriya Tekstil Dakultas Seni Rupa Institut Kesenian Jakarta (IKJ) ini menjelaskan seluk beluk ulos. Menurutnya, ulos adalah pakaian sehari-haru pada zaman dulu, sebelum orang Batak mengenal tekstil buatan dari luar daerah ini. Pemakaian ulos pada laki-laki biasanya di bagain atas, yang disebut hande-hande, sementara untuk bagian bawah disebut singkot. Ulos yang dikenakan untuk penutup kepala disebut tali-tali atau detar.(Baca : Kreativitas Tanpa Batas Merdi Sihombing)

    "Pada perempuan memakai ulos di bawah hingga di batas dada disebut dengan haen. Ulos yang dipakai sebagai penutup punggung disebut hoba. Ulos yang dipakai sebagai selendang dinamakan ampe-ampe. Dan untuk penutup kepala disebut saong. Para perempuan yang menggendong anak dan kenakan ulos sebagai penutup punggung disebut hohop-hohop. Bila ulos dikapai untuk menggendong dinamakan parompa."

    Dalam faktanya tak semua ulos dapat dikenakan di dalam kehidupan sehari-haru. Karena ulos menggambarkan dunia batin orang Batak, maka ulos sebagai lambang tradisi, upacara adat dan simbol sebuah peristiwa. "Ulospun jadi representasi status individu dari pengguna hingga status sosial. Makanya tinggi ketika dipakai dalam upaca adat Batak. Tak heran setiap membicarakan adat Batak tak lepas dari ulos," kata Merdi.

    Dalam ulos juga berlaku aturan yang tidak boleh sembarang dilakukan. Untuk ukuran panjang dan lebar harus cermat dan tak boleh menyimpang dari ketentuan. Dalam setiap proses pembuatan atau menenun ulos berlaku larangan atau pantangan. Merdi menyebutkan misalnya, seorang penenun tidak boleh meninggalkan kampung membawa ulos yang masih setengah selesai apalagi menuntaskannya di kampung lain. Jika aturan ini dilanggar, tondi atau roh dalam kain enun akan hilang. "Setiap selembar ulos yang dibuat sarat makna roh dan filosofi kehidupan," ujar Merdi.

    Merdi juga menerangkan dalam adat orang Batak, ulos memiliki fungsi simbolik yang menyertakankehidupan manusia sejak lahir hingga menutup mata atau wafat.

    "Dalam setiap hidup orang Batak, ada tiga peristiwa menerima atau mengenakan ulos yaitu kelahiran, pernikahaan dan kematian. Dan pemberian ulos, jenis termasuk siapa orang yang memberikan dan menerima ulos mempunyai aturan yang baku," kata Merdi.

    Menariknya, ada ulos yang hanya dipakai orang tertentu, atau dipakai pada kesempatan khusus. "Ulos ini disebut Homitan yang berarti simpanan karena jarang dipakai atau terlihat pada kehidupan sehari-hari," jelas dia.

    HADRIANI P

    Berita Terpopuler
    Kasus Robin Williams, Ini 6 Fakta Penting Depresi
    Baby Growth Spurts, Waktunya Bayi Rewel
    Segudang Manfaat Pepaya 
    Ini Penyebab Muncul Fenomena Jilboobs 
    Penerus Hermes Jadi Penasehat Anti Aging Dunia


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PPKM Level 3 selama Nataru Batal, Ini Aturan Baru yang Diterapkan

    Rencana PPKM Level 3 di seluruh tanah air selama Natal dan Tahun baru telah batal ditetapan. Gantinya, ada aturan baru pengganti pada periode Nataru.