Etnik Indonesia, Tangkal Hadirnya Produk Impor

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bagikan Berita
    Sejumlah model memperagakan busana dari Desainer Itang Yunasz dalam pagelaran busana Jakarta Islamic Fashion Week 2013 di JCC, Jakarta (28/6). Itang Yunasz mengusung label barunya Kamilaa yang identik dengan unsur etnik Indonesia. TEMPO/Nurdiansah

    Sejumlah model memperagakan busana dari Desainer Itang Yunasz dalam pagelaran busana Jakarta Islamic Fashion Week 2013 di JCC, Jakarta (28/6). Itang Yunasz mengusung label barunya Kamilaa yang identik dengan unsur etnik Indonesia. TEMPO/Nurdiansah

    TEMPO.CO, Jakarta - Perancang senior Buyung Rais kembali eksis di dunia mode. Melalui label batik Qonita, Buyung menghadirkan koleksi pria dalam nuansa etnik.

    Ditemui di acara pembentukan Forum Desainer Etnik Indonesia (FDEI) di Kafe Emax, Pasar Raya Blok M, Jakarta Selatan pada Rabu, 13 Agustus 2014, Buyung mengatakan,"Saya memang cinta dengan etnik yaitu sesuatu yang menyerap keIndonesiaan. Melalui Qanita, saya merancang koleksi baju koko bahan polos berkombinasi batik. Batik indentitas Indonesia, yang saya hadirkan di sini dengan mengusung inspirasi lokal.

    Buyung Rais yang aktif sebagai penggagas dan pengarah FDEI ini melalui koleksinya menghadirkan koleksi baju koko dan celana sarung dari bahan dolbi. Menurutnya, pemilihan nuansa etnik untuk mengembangkan idetitas dan kecintaan kain Indonesia.

    "Etnik itu Indonesia. Yang memiliki kekayaan dan keragaman dengan pengerjaan yang sarat denga falsafah hidup. Kita harus menularkan semangat etnik terutama di industri tekstil dan mode di Indonesia supaya kita tidak tertinggal dan tergilas dari gempuran impor atau barang-barang dari negara lain," kata Buyung.(Menuju Pusat Busana Etnik Dunia)

    Dan ia menuturkan ada beberapa keberatan dari masyarakat bila membeli busana etnik dinilai harganya terlalu mahal. "Padahal kan pengerjaannya hand made, melalui pewarnaan alam, prosesnya mahal. Yang begini tak pernah dipikirkan, tapi kalau beli produk impor harga mahal bisa dengan enteng tak berdosa. Beli produk kita etnik, keren terasa mahal dan sedikit protes."

    Buyung berharap saatnya masyarakat Indonesia menghargai karya perancang lokal yang menyajikan kekhasan seperti nuansa etnik dalam busana siap pakai atau adi busana.

    "Saya suka etnik dan sangat ingin sekali Indonesia bangga kenakan baju dengan indentitasnya etnik, bukan budaya lain. Memang pengerjaan busana etnik lumayan sulit tapi menyaksikan karya di atas batik, tenun, sulam dan bordir rasanya puas tak terbayarkan dengan apapun. Indonesia harus kompak untuk mengunggulkan etnik, jangan gempuran impor bisa berjaya dan melemahkan peran perancang lokal," kata Buyung.

    HADRIANI P

    Berita Terpopuler
    Kebiasaan Menjelang Tidur yang Bikin Cantik 
    Macet dan Gaya Hidup Bikin Orang Kota Depresi 
    Mari Pangestu Resmikan Buku Merdy Sihombing
    Enam Jenis Ulos yang Dikenakan untuk Sehari-Hari


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Fitur Stiker

    Fitur "Add Yours" Instagram dapat mengundang pihak yang berniat buruk untuk menggali informasi pribadi pengguna. User harus tahu bahaya oversharing.