Nyeri Punggung, Perhatikan Posisi Duduk dan Tidur

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Fortunella Levyana (22) merupakan seorang Fisioterapis klub Pelita Bandung Raya saat melakukan tahap pemulihan kepada salah satu pemain yang cedera pada lutut di Lembang, Jawa Barat. (14/4). TEMPO/Aditya Herlambang Putra

    Fortunella Levyana (22) merupakan seorang Fisioterapis klub Pelita Bandung Raya saat melakukan tahap pemulihan kepada salah satu pemain yang cedera pada lutut di Lembang, Jawa Barat. (14/4). TEMPO/Aditya Herlambang Putra

    TEMPO.CO, Jakarta - Nyeri punggung bawah sering dialami oleh setiap orang. Kondisi ini disebabkan cara duduk seseorang ketika berada di meja komputer dan cara bangun dari tidur.

    Hal ini diungkapkan Joko Santoso S FT, terapis dari GayaSpa di Jalan Tendean, Jakarta Selatan, pada Selasa, 18 November 2014. Menurut Joko, hindari posisi melorot atau melengkung (slump-sit) yang terlalu membungkuk dan condong ke depan, saat bekerja atau duduk lama.

    "Low back pain akan mengarah ke sakit leher atau neck pain," katanya. Sakit leher ini akan menyebabkan cervical syndrome, yakni suatu keadaan yang disebabkan oleh iritasi atau penekanan akar saraf servikal oleh penonjolan discus invertebralis. (Baca: Awas, Kebanyakan Duduk Bikin Tulang Rapuh)

    Gejalanya adalah nyeri leher yang menyebar ke bahu, lengan atas atau lengan bawah, parestesia, dan kelemahan atau spasme otot. Cervical syndrome yang diiringi rasa pusing karena pengaruh otot ke kepala. Selain itu, memakai alas kaki dengan hak datar dan hak tinggi terlalu lama juga bisa menyebabkan low back pain.

    Joko mengatakan cara bangun tidur juga sebaiknya memiringkan badan, menurunkan kaki baru mengangkat badan. Beberapa hal di atas bisa mengarah pada sakit lebih berat, yakni hernia nukleus pulposus (HNP) atau dalam bahasa sehari-hari disebut sebagai urat terjepit atau saraf terjepit.

    Hernia nukleus pulposus ini ada banyak penyebabnya, yakni sikap duduk yang salah, sering menyetir dalam waktu lama, kurang olahraga, dan mengangkat beban, atau menahan tenaga berlebihan. "Bila HNP akut maka bisa dioperasi, kalau tidak terlalu parah bisa diterapi sampai enam kali sampai ada perubahan," kata Joko.

    Selain itu, bila sakit tak menjadi sembuh, menurut Joko, ada faktor psikis atau kejiwaan yang dialami seseorang. "Psikis bisa memicu hernia nukleus pulposis," ujarnya. Untuk mengatasi rasa sakit, bisa dilakukan penyorotan dengan lampu infra red portable (IRP) yakni alat pemanas yang superfisial melakukan penetrasi panas hanya di permukaan kulit.

    EVIETA FADJAR


    Berita Terpopuler:
    Puteri Indonesia Pariwisata Siap Berlaga di Warsawa
    Kaesang Jokowi pun Ingin ke Taman Jomblo
    Vol Au Vent dan Pomelo Salad di Resto Patheya
    Proyek untuk Sanitasi Lebih Baik di Masa Depan


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Resep Mudah Membuat Disinfektan Saat Wabah Virus Corona

    Ketika wabah virus corona merebak, cairan disinfektan kian diminati masyarakat. Bila kehabisan, ada cara alternatif membuat cairan anti kuman itu.