Begini 7 Tren Mode Tahun Depan  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Vicky Monica berjalan di atas catwalk membawakan busana karya desainer Jeffry Tan di Jakarta Fashion Week, Jakarta. Instagram.com/@Vickymonica

    Vicky Monica berjalan di atas catwalk membawakan busana karya desainer Jeffry Tan di Jakarta Fashion Week, Jakarta. Instagram.com/@Vickymonica

    TEMPO.CO, Jakarta - Dari perhelatan Bazaar Fashion Festival, Ikatan Perancang Mode Indonesia (IPMI) Trend Show 2015, dan Jakarta Fashion Week 2015, Tempo mencatat kecenderungan yang muncul di panggung mode Indonesia tidak bergerak jauh dari arus mode dunia. Berikut ini adalah rangkuman tren mode tahun depan versi Tempo:

    1. Siluet Longgar
    Potongan pakaian yang lebih longgar muncul dalam berbagai karya desainer untuk musim semi 2015. Sesuai dengan tema "Bohemia" yang tak punya beban, potongan longgar tentu memberikan kesan santai. Label siap pakai Monday to Sunday menampilkan siluet longgar dalam keseluruhan koleksinya. Kecenderungan serupa juga muncul dalam koleksi Sapto Djojokartiko, baik lewat lini pret-a-porter (baju siap pakai) di IPMI Trend Show 2015 maupun koleksi siap pakai dan lini utamanya dalam Jakarta Fashion Week 2015. Sementara itu, desainer Toton Januar menampilkan sweater dari bahan sutra dengan potongan gembung pada bagian lengan. (Baca: Gaya Si Panjang dan Siluet Longgar)

    2. Celana Lebar
    Banyak desainer yang membuat celana lebar sebagai salah satu elemen koleksinya. Tafsiran celana lebar itu sendiri bisa bermacam-macam. Pilihan celana olahraga yang dimunculkan oleh label Monstore dalam JFW 2015, misalnya, menunjukkan kecenderungan penampilan santai. Adapun celana lebar ala Ardistia New York dari bahan transparan menawarkan penampilan yang lebih feminin. Selain itu, ada desainer yang menampilkan koleksi celana palazzo yang merujuk pada celana dengan bagian bawah yang sangat lebar. Gaya ini paling banyak muncul tahun ini. Desainer seperti Jeffry Tan hingga Auguste Soesastro (Baca: Gebrakan Auguste Soesatro ala Diplomat)sama-sama menampilkan potongan semacam itu. Desainer Tri Handoko, melalui label Austere, juga membuat celana lebar. Bedanya, dia membiarkan potongan lebar celananya lurus dari bagian pinggang hingga kaki.

    3. Sepatu Datar
    Desainer juga ramai-ramai membiarkan para peragawati melemaskan kaki mereka dengan memilih sepatu sol datar, atau bahkan sepatu olahraga, seperti yang dilakukan oleh desainer Didi Budiardjo lewat koleksi Criterion. Langkah yang nyaris serupa dilakukan oleh label Kle, yang memilih selop dengan hak rata ataupun label Major Minor Signature, yang memilih sepatu flat bertali.

    4. Motif Bunga dan Geometri Warna-warni
    Musim semi di negara empat musim juga berarti musim bunga. Karena itu, ada banyak motif cetak bunga ataupun aplikasi bunga berupa bordir dalam karya para desainer dunia. Desainer Indonesia punya waktu lebih panjang, karena di negeri ini bunga bersemi sepanjang tahun. Di antara perancang yang memakai motif bunga adalah Sebastian Gunawan, Biyan Wanaatmadja, dan Mel Ahyar. (Baca: Warna-warni Tunik Kaftan Tenun Nusantara)

    Adapun desainer Billy Tjong pada musim ini bermain dengan karya fotografi ataupun lukisan dengan beragam tema, dari kemacetan Ibu Kota hingga gelembung sabun. Teknik yang digunakan mengingatkan kita pada Mary Katranzou asal Inggris. Major Minor Maha membuat “tabrak lari” geometri, yang terinspirasi oleh gaya arsitektur art deco dengan warna oranye dan kuning. Desainer muda Patrick Owen membuat motif cetak dengan warna merah dan biru di atas kain bertekstur dengan warna putih. Koleksi Patrick terlihat sedikit lebih ceria dibanding pada musim sebelumnya.

    5. Permainan Lipit
    Aksen berupa lipit, dari lipit pisau—dibuat kecil-kecil, rapat, serta dipopulerkan oleh desainer Jepang Issey Miyake—hingga permainan lipit besar berbentuk gelombang muncul dalam berbagai koleksi para desainer musim ini. Lipit pisau muncul dalam karya Felicia Budi melalui label Fbudi, yang mengeksplorasi bahan serupa kertas yang bisa dicuci. Sedangkan desainer Yogie Pratama dan Peggy Hartanto bermain dengan ruffle (rumbai). Yogie, misalnya, membuat tumpukan ruffle pada koleksi gaun malam miliknya. Peggy membuat rumbai pada gaun cocktail selutut dalam warna cerah. Selain itu, dia menerapkan permainan aplikasi berupa kain yang ditumpuk menyerupai pendar batu permata dalam koleksi pakaian yang bertajuk Gems.

    6. Hitam dan Emas
    Sebagian desainer yang mengeluarkan koleksi gaun malam memilih palet klasik hitam dan emas sebagai warna dominan. Sebut saja Barli Asmara lewat koleksi Royal Javanese, ataupun Oscar Lawalata yang bekerja sama dengan desainer aksesori asal Belanda, Mada van Gaans, dalam tema "The Ceremony of Java". Yang unik adalah koleksi desainer Sheila Agatha lewat debut labelnya, Sean & Sheila, yang merupakan hasil kerja sama dengan desainer Singapura, Sean Loh. Sheila menyuguhkan koleksi pakaian urban dengan inspirasi bangau emas. Ada bordir timbul bangau berwarna emas yang kadang ditumpuk menyerupai motif grafis dan menjadi benang merah koleksinya. (Baca: Keindahan Penari Bedoyo di Mata Oscar Lawalata)
     

    7. Poncho
    Jenis pakaian yang satu ini menjadi salah satu penanda bahwa virus Bohemia sudah sampai Indonesia. Poncho—baju gombrong yang menjadi pakaian tradisional suku-suku asli Amerika—lengkap dengan rumbai muncul dalam banyak kesempatan. Dua desainer yang menampilkan pakaian ini dengan jelas antara lain Denny Wirawan, lewat koleksi yang terilhami oleh film Manolete, atau yang lebih dikenal dengan judul internasional The Passion Within, serta label busana muslim Nur Zahra. (Baca: Mamita, Kisah Cinta Sang Matador Spanyol)

    SUBKHAN | H.P.

    Terpopuler
    Ketika Kerajinan Indonesia Naik Kelas
    Tips Membuat Bayi Mudah Tidur
    Berhijab Trendi ala Mahasiswi, Ini Panduannya
    Susu Tidak Kurangi Risiko Patah Tulang
    Jangan Sembarang Beri Obat Pencahar ke Bayi


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika-Liku Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Pengganti Sandiaga Uno

    Kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta kosong sejak Agustus 2018. Pada Januari 2020, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra mengajukan dua nama.