Pesona Mahkota Laweyan  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bagikan Berita
    Berbagai stempel untuk batik yang digunakan di workshop Batik Putra Laweyan, Kecamatan Laweyan, Solo, Jawa Tengah, Senin (18/3). TEMPO/Suryo Wibowo

    Berbagai stempel untuk batik yang digunakan di workshop Batik Putra Laweyan, Kecamatan Laweyan, Solo, Jawa Tengah, Senin (18/3). TEMPO/Suryo Wibowo

    TEMPO.CO, Jakarta - Di Kota Laweyan, Solo, sekitar 80-an bisnis batik kembali menggeliat. Pemerintah memberi perhatian dan mendorong Laweyan untuk menjadi kampung wisata. Para perajin pun membentuk Forum Pengembangan Kampung Batik Laweyan untuk mengembalikan masa kejayaan. (Baca: Kampung Batik Pinggir Kali Laweyan)

    Sebagai sebuah kawasan wisata, tentunya mereka harus banyak mengubah karakter bangunan. “Kami sekarang harus mulai membuka diri, berbeda dengan masa lalu,” kata Alpha.

    Pintu gerbang yang dulu tertutup rapat itu dibuka lebar-lebar demi menyambut wisatawan. Mereka juga harus rela rumah megahnya dimasuki wisatawan serta calon pembeli yang ingin melihat produksi batik. (Baca: Nadine Ingin Bikin Batik Motif Alam)

    Di gerai Putra Laweyan, misalnya, pemilik harus berbagi ruang dengan pengunjung. Di sana, pembeli bebas keluar-masuk hingga ke tempat produksi batik. Bahkan mereka bisa melihat langsung proses pembuatan batik.

    Gunawan Muhammad Nizar, pemilik Putra Laweyan, bahkan mempersilakan setiap pengunjung yang merasa penasaran bagaimana rasanya membatik untuk mencoba sendiri membatik dengan canting.

    Hanya, tak semua gerai kembali berproduksi. Mahkota Laweyan, contohnya, kini disulap untuk dijadikan museum. Berbagai peninggalan yang menunjukkan kemewahan para juragan pada masa lampau telah dikumpulkan. (Baca: Solo Berpotensi Wisata Komunitas Kreatif)

    Di sana terdapat radio kuno, pemutar piringan hitam, televisi, hingga alat-alat untuk memproduksi batik. Koleksi itu akan dipajang di lantai dua rumah yang dulunya digunakan untuk menjemur batik.

    Tak hanya Mahkota Laweyan yang kini dijadikan sebagai museum. “Sudah ada tujuh rumah lain yang juga dipersiapkan menjadi museum berisi koleksi barang kuno,” kata Alpha.

    Nantinya, rumah-rumah itu akan menjadi bagian dari “museum raksasa” seluas 24 hektare bernama Kampung Batik Laweyan. Tiap jengkal kampung ini menyimpan sejarah perkembangan batik Solo yang telah diakui dunia. (Baca: Liburan Unik, Juga Mendidik)

    AHMAD RAFIQ | ISMA SAVITRI | HP

    Terpopuler
    Membersihkan Hidung Mampet
    Waspada Hidung Tersumbat
    Kenali 3 Cara Pakai Obat Dekongestan
    Hari Disabilitas, 130 Tunanetra Ajak Jalan Sehat
    Utak-atik Merakit Miniatur Militer


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ronaldo Cetak Gol ke-800: Ini Jejak Gol Bersejarah CR7

    Ronaldo mencetak 800 gol sepanjang kariernya. Gol itu ia torehkan di laga Liga Inggris melawan Arsenal, 3 Desember lalu. Apa saja gol bersejarahnya?