Komunitas Gotham Ada di Jakarta

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bagikan Berita
    Kostum terbaik keempat adalah dalam film

    Kostum terbaik keempat adalah dalam film "Batman Returns" tahun 1992. Michael Keaton berperan sebagai Batman ketika itu. Ini adalah kostum Batman pertama yang memperlihatkan bentuk otot sang jagoan kota Gotham tersebut. Zimbio.com

    TEMPO.CO, Jakarta -Sebuah lorong untuk jalan alternatif di salah satu gedung perkantoran Jakarta dibuat sedemikian rupa sehingga mirip sel penjara. Tepat di ujung lorong terdapat sebuah ruang kotak (booth) tempat berfoto bertulisan “Gotham City Police Department”. Kotak foto ini siap mencetak foto siapa saja yang ingin dibuat mirip dengan foto catatan kriminal milik polisi. (Baca: Dibui Karena Simbol Segitiga)

    “Lorong tersebut sengaja kami buat semirip mungkin dengan sel penjara di Gotham City,” ujar Galih Aristo, pendiri komunitas Gotham Citizen Club (GCC), saat diwawancarai di markas komunitas ini di Jalan Kerinci 8 Nomor 1, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, pada pekan lalu.

    Mereka memilih suasana penjara Gotham City Police Department, karena anggota komunitas ini adalah penyuka segala hal tentang Batman dan Kota Gotham. Mereka sangat ingin menciptakan suasana tempat yang paling mudah terekam dalam ingatan dari komik atau film Batman. Salah satunya adalah sel tempat Batman memasukkan musuh-musuhnya, seperti Joker dan Freeze. (Baca: Jaksa Berkeras 'The Joker' Harus Dieksekusi)

    Komunitas ini terbentuk pada awal 2009 saat Galih, yang menyukai segala hal tentang Batman, kesepian mencari teman yang juga menyukai tokoh tersebut. Lalu, iseng-iseng ia membuat halaman penggemar Batman di situs jejaring sosial Facebook dengan nama Gotham Citizen Club.

    “Sebetulnya kami bukan cuma menyukai sosok Batman, tapi juga segala hal yang melingkupinya, seperti musuh-musuhnya dan keadaan kotanya,” ujar Galih.

    Komunitas ini mengidentifikasikan diri mereka sebagai warga Kota Gotham karena merasa bahwa kota itu adalah kota yang memiliki kondisi paling nyata. Menurut mereka, Kota Gotham memiliki kondisi yang hampir sama dengan Jakarta, dari keruwetan hingga kepalsuan di balik bangunan-bangunan megahnya. Bagi mereka, Jakarta dan Gotham adalah dua kota yang memerlukan seorang sosok penyelamat seperti Batman. (Baca: Batman Terlambat Selamatkan Robin Lagi)

    Komunitas ini juga tidak menjadikan Batman sebagai pusat perhatian, karena mereka punya pandangan sendiri terhadap tokoh-tokoh antagonis yang ada di Kota Gotham. Misalnya tokoh Dr Victor Fries, yang dikenal sebagai Freeze. Ada kisah cinta mendalam di balik kejahatan Freeze. Ia membenci setiap orang di Kota Gotham karena dana penelitian untuk menyembuhkan istrinya yang terkena kanker dikurangi. Akibatnya, hidup istri Freeze tidak bisa diselamatkan. “Selalu ada cerita mengapa seorang tokoh menjadi antagonis di Kota Gotham,” kata Galih.

    Orang-orang yang berkumpul di komunitas ini tidak cuma untuk bersenang-senang. Galih dan teman-temannya juga rutin mengadakan kegiatan amal untuk anak yatim-piatu. Kegiatan amal ini mereka lakukan dengan mengatasnamakan Wayne Foundation, yayasan milik Bruce Wayne. Dalam kisah Batman, Bruce adalah sosok asli Batman yang yatim-piatu dan sangat kaya. Bruce bekerja dan mencari uang untuk membiayai anak yatim-piatu di Kota Gotham. (Baca: Heath Ledger Ternyata Pernah Ditawari Peran Batman)

    “Kami wujudkan dalam bentuk nyata apa yang dilakukan Bruce Wayne. Karena itu, kami selalu mengatasnamakan sumbangan kami dari Wayne Foundation,” ujar Maria Amanda Alathea, 21 tahun, mahasiswi Universitas Atma Jaya, yang juga anggota komunitas ini.

    Maria—biasa dipanggil Alathea—mengaku bahwa anggota perempuan sangat jarang dalam komunitas ini, karena tema yang diusung lebih banyak membahas tentang laki-laki. Dia juga tahu segala hal tentang Batman bukan dari temannya, melainkan dari ayahnya.

    “Saya suka Batman karena komik yang dikoleksi papi saya,” katanya.
    Koleksi Alathea tidak seperti koleksi Galih, yang berkarakter maskulin. Alathea lebih suka mengoleksi karakter yang feminin, seperti Harley Quinn, kekasih Joker sekaligus musuh Batman. “Menurut saya, dia itu lucu saja. Maksudnya ingin membantu Joker, malah akhirnya jadi terobsesi oleh Joker,” katanya. (Baca: Gara-gara The Joker, Pemilik Bioskop pun Dituntut)

    Saat bergabung dengan komunitas ini, motif Alathea bukan semata menyukai Batman, melainkan mengikuti kuis Saturday Five Years of Batman yang diadakan komunitas tersebut. Tapi beberapa teman mengajak Alathea untuk bergabung. “Saya pikir, kenapa enggak ikut saja untuk menjalin pertemanan, dan ternyata ini sungguh berguna,” ujarnya.

    Setiap anggota Gotham Citizen Club biasanya memiliki tokoh jagoan sendiri. Tapi mereka tetap kompak, terutama ketika akan mengadakan pameran. Galih dan Alathea mengakui, walaupun tidak menghasilkan untung besar dengan mengikuti suatu pameran, kekompakan anggota komunitas ini menghasilkan kegembiraan dan kepuasan. “Minimal ada teman berbagi yang tahu mengenai segala hal tentang Gotham City. Kan jadi enak ngobrolnya,” kata Galih. (Baca: The Joker Colorado Tak Pengaruhi Box Office Batman)

    CHETA NILAWATY | HP
    Terpopuler
    Posisi BAB Terbaik, Jongkok atau Duduk? 
    Heboh Miss World 2014, Siapa Juaranya? 
    Orang Indonesia Hanya Lahap Satu Buku Per Tahun
    Gaya Tie Dye Shibori Jepang dalam Stola dan Scarf
    Jelang Perayaan Natal, Cemara Hias Laris Manis


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Prosedur dan Syarat Perjalanan selama PPKM Level 3 Nataru

    Pemerintah mengeluarkan syarat dan prosedur perjalanan selama PPKM saat Natal dan Tahun Baru. Perjalanan ke masuk dari luar negeri juga diperketat.