Kabut Asap, Udara di Tanah Datar Sangat Tidak Sehat

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Para komikus berharap agar pemerintah lebih serius dalam menanggulangi kebakaran hutan dan lahan yang berujung pada bencana kabut asap ini. Instagram.com/@si_abi

    Para komikus berharap agar pemerintah lebih serius dalam menanggulangi kebakaran hutan dan lahan yang berujung pada bencana kabut asap ini. Instagram.com/@si_abi

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Kantor Lingkungan Hidup Tanah Datar Viferi mengatakan kabut asap membuat udara di Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, menjadi sangat tidak sehat.

    "Setelah kami melakukan pengujian kualitas udara beberapa hari terakhir dengan parameter particulate matter (PM-10), didapatkan hasil uji 201,7 g/Nm, sedangkan baku mutu kualitas udara ambien adalah 150 g/Nm," katanya di Batusangkar, Rabu, 9 September 2015.

    Berdasarkan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor KEP-45/MENLH/10/1997 tentang Indeks Standar Pencemaran Udara, udara dengan PM-10 antara 200 dan 299 g/Nm termasuk kategori sangat tidak sehat.

    Viferi menjelaskan, pengujian kualitas udara di Kabupaten Tanah Datar sudah dilakukan tiga kali, yakni di Nagari Pagaruyung pada 3-4 September, yang hasilnya menunjukkan kondisi udara tidak sehat.

    Pada 6-7 September, di Kompleks Kantor Bupati, hasilnya menunjukkan udara tidak sehat. Sedangkan di Kota Batusangkar pada 8-9 September, hasilnya menunjukkan udara sudah sangat tidak sehat.

    Pemerintah Kabupaten Tanah Datar telah membagikan 14 ribu masker kepada masyarakat dan meminta mereka mengurangi aktivitas di luar ruangan agar tidak terpapar udara tak sehat.

    Bupati Tanah Datar M. Shadiq Pasadigoe telah menyeru masyarakat agar mengenakan masker saat melakukan kegiatan di luar ruangan guna mencegah dampak kualitas udara yang tak sehat terhadap kesehatan.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Resep Mudah Membuat Disinfektan Saat Wabah Virus Corona

    Ketika wabah virus corona merebak, cairan disinfektan kian diminati masyarakat. Bila kehabisan, ada cara alternatif membuat cairan anti kuman itu.