Apa Pentingnya Sunat bagi Pria Dewasa?

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi khitan dewasa. TEMPO/Wahyurizal Hermanuaji

    Ilustrasi khitan dewasa. TEMPO/Wahyurizal Hermanuaji

    TEMPO.CO, Jakarta - Makin banyak pria dewasa yang menjalani khitan. Muhammad Zaiem, dokter di Rumah Sunatan mengatakan , pasiennya meningkat dua kali lipat dibandingkan tahun lalu. Dari sebelumnya sekitar 50 jadi 100 orang per bulan.

    Malah, dia melanjutkan, beberapa pasiennya merupakan warga asing yang semata datang ke Indonesia, seperti Jepang dan Australia, demi menjalani proses sekali seumur hidup itu. "Mungkin karena tradisi sunat sudah ada di Indonesia sejak lama, jadi lebih dipercaya," katanya, seperti ditulis Koran Tempo, Selasa, 13 Oktober 2015.

    Pada prinsipnya, kata Zaiem, tak ada batasan umur untuk disunat. Proses khitanan anak dan dewasa juga sama, yakni memotong sebagian atau seluruh kulit yang menutupi kepala penis atau kulup. Tapi kesulitan operasi kecil ini berbeda. Pada anak, kulit kulup masih elastis dan lebih mudah sembuh. Biasanya cuma butuh waktu sekitar 3 hari sampai lukanya kering.

    Nah, pada dewasa, kulitnya tak seelastis anak. Makin berumur, daya lenturnya makin berkurang. Secara fisiologis, penis dewasa juga berbeda. Mereka lebih mudah ereksi. "Kesenggol sedikit, burung bisa bangun," kata Zaiem.   

    Ereksi ini menyebabkan lebih gampang nyeri dan mengalami pendarahan. Semakin besar ukuran penis, semakin banyak pembuluh darah, makin tinggi pula resikonya. Sembuhnya pun lebih lama. Butuh waktu sekitar 5-7 hari sampai lukanya kering. Itu pun kalau tanpa penyulit. Untuk menghindari pendarahan ini, dokter lebih sering menggunakan teknik laser atau electric cauter pada pria dewasa. Pemotongan memakai hantaran panas dari listrik ini membuat pendarahan bisa diminimalisir.

    Setelah disunat, Zaiem mewanti-wanti agar menghindari rangsangan yang bisa membuat burungnya terbangun, seperti gambar yang merangsang atau pun 'senggolan' pasangan. Tegang sedikit, bisa nyeri. Musababnya, kulit yang dijahit akan tertarik saat ereksi. Renggangan kulit akibat tarikan inilah yang bakal menyebabkan rasa sakit.

    Anton, sebutlah namanya begitu, tersenyum malu saat ditanya tentang hubungan ranjangnya dengan isteri setelah disunat. Pria berusia 27 tahun ini cuma mau menjawab singkat. "Ternyata memang benar, sesuai teori," katanya di Rumah Sunatan, Bekasi.

    Teori yang dimaksud adalah tentang kepuasan seksual setelah khitan. Awal tahun ini Anton memutuskan menyunat  alat kelaminnya. Khitanan ini baru dilakukannya setelah menikah karena alasan kesehatan. Meski tak punya penyakit atau pun keluhan apa pun, Anton tetap bersunat karena tak ingin menjadi salah satu pasien HIV maupun kanker prostat. Tak cuma menurunkan resiko penyakit itu, efek sampingnya, kepuasan seks juga makin meningkat karena penis lebih sensitif dibanding sebelumnya.

    NUR ALFIYAH


     

     

    Lihat Juga