Terapi Chiropractic Seharusnya Bukan Asal 'Krek'  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Klinik Chiropractic. Tempo/Arief Hidayat

    Klinik Chiropractic. Tempo/Arief Hidayat

    TEMPO.CO, Jakarta -Kasus Allya Siska Nadya seperti membawa istilah baru dalam kamus kesehatan kita: chiropractic. Kematian perempuan cantik akibat berobat di Chiropractic First di Pondok Indah Mall, Jakarta Selatan, itu membuat geger. Klinik tersebut ditutup dan dokternya jadi buron.

    Chiropractic berasal dari bahasa Yunani. Chiro, berarti tangan, dan practic adalah penanganan. Kalau diindonesiakan jadinya kiropraksi. "Jadi, penanganan yang menggunakan tangan, tapi bukan tukang pijat," kata Ketua Umum Perhimpunan Chiropraksi Indonesia, Sukarto, Senin lalu seperti ditulis Koran Tempo Selasa 12 Januari 2016.

    Ditemukan pada 1895 oleh D.D. Palmer di Amerika Serikat, teknik terapinya menitikberatkan pada kontrol fungsi tiap sel, organ, dan sistem tubuh. Praktisi kiropraksi akan memijat titik-titik tertentu untuk mencari posisi tulang belakang yang tak beres, lalu mengembalikannya ke posisi normal.

    Chiropractic, kata Sukarto, tak menggunakan obat atau pembedahan karena risikonya besar bagi tubuh. Metode ini menggunakan ilmu mekanika yang diterapkan pada tubuh alias biomechanical therapy. Terapinya serba terukur dan tak asal "krek". "Kalau asal pelintir, orangnya bisa mati," ujar dokter spesialis kedokteran penerbangan ini.

    Ada sepuluh masalah tulang yang bisa disembuhkan dengan praktek ini. Dari migrain yang disebabkan oleh kesalahan tulang belakang, gangguan pada tulang leher, sakit pinggang—baik yang menjalar sampai ke kaki maupun yang tidak—serta nyeri di sekitar bahu, lengan, dan kaki. Berbagai gangguan itu bisa disebabkan bawaan, kebiasaan duduk yang salah, memanggul beban berat, seperti tas punggung yang tak seimbang, serta masalah penuaan.

    Tapi, Sukarto melanjutkan, tak semua masalah tulang bisa sembuh dengan kiropraksi. Beberapa penyakit, seperti kanker dan patah tulang, justru akan bertambah parah jika diterapi dengan cara manual ini. Kanker bisa jadi akan makin menyebar dan patah tulang makin hebat. "Kalau tulang patah dipelintir, malah akan makin patah," ujarnya.

    Menurut Sukarto, sebelum menjatuhkan pilihan pada pengobatan kiropraksi, pasien mesti tahu apakah masalahnya bisa disembuhkan dengan metode ini atau tidak. Jika belum paham, bisa dicari indikasinya di Internet. Kalau sudah, barulah datang ke klinik yang dituju.

    Praktisi kiropraksi akan memeriksa keadaan pasien dengan menanyakan keluhan, memeriksa fisiknya, dan melakukan foto, seperti melalui CT Scan, MRI, dan X-ray. Jika hasilnya keluhan yang dialami tak bisa disembuhkan lewat kiropraksi, praktisi akan menyampaikannya. "Tak boleh main pelintir saja," kata dokter Angkatan Udara tersebut.

    Tapi kalau memang ada indikasi yang bisa diperbaiki, praktisi akan memberikan informasi masalah yang ada di tubuh pasien. Mereka juga akan menerangkan perlakuan terapi yang bakal diberikan. Jika memang pasien bersedia, mereka akan memberikan formulir persetujuan, lengkap dengan persetujuan efek samping yang bisa terjadi.

    Kalau pasien mau, barulah terapi dilakukan. Filosofinya, kata Sukarto, tak boleh mencederai pasien. "Enggak boleh main 'krek'," katanya. "Kalau pasien teriak, itu salah. Tanda malpraktek."

    Praktisi pengobatan ini memang bukan orang sembarangan. Badan Kesehatan Dunia PBB, WHO, menjabarkan panduan terapi chiropractic. Menurut mereka, para lulusan sekolah kedokteran perlu berlatih 1.800 jam sebelum menjadi terapi chiropractic. Sedangkan untuk mereka yang bukan dokter harus belajar selama 6 tahun terlebih dulu.

    Dokter spesialis ortopedi dan traumatologi, Briliantono Munardi Soenarwo, mengatakan chiropractic tak termasuk ilmu kedokteran. "Tapi bukan berarti pengobatan ini tak bisa digunakan," ujarnya.

    Untuk mengatasi masalah sendi yang kaku, chiropractic bisa dijajal. Namun, kalau problemnya sampai pada kelainan bentuk tulang, seperti skoliosis dan hernia, dia menyarankan agar pergi ke dokter ahli tulang. "Tak boleh pergi ke pengobatan yang bukan dokter."

    NUR ALFIYAH



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Industri Permainan Digital E-Sport Makin Menggiurkan

    E-Sport mulai beberapa tahun kemarin sudah masuk dalam kategori olahraga yang dipertandingkan secara luas.