Selasa, 17 September 2019

Hati-hati, Sikap Ini Tumbuhkan Bibit Terorisme

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bahrun Naim, terduga tokoh dibalik teror bom Sarinah jalan MH Thamrin, Jakarta. Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Tito Karnavian mengungkapkan Bahrun Naim punya hasrat menjadi pemimpin ISIS di Asia Tenggara. bahrunnaim.co

    Bahrun Naim, terduga tokoh dibalik teror bom Sarinah jalan MH Thamrin, Jakarta. Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Tito Karnavian mengungkapkan Bahrun Naim punya hasrat menjadi pemimpin ISIS di Asia Tenggara. bahrunnaim.co

    TEMPO.CO, Jakarta - Pemikiran seseorang atas konflik yang tidak terselesaikan dapat menimbulkan fanatisme berlebihan. Pemikiran ini dapat berkembang menjadi sikap ekstrim yang tidak menghargai keberadaan orang lain dan dapat menjadi bibit yang mengarah pada tindak terorisme.

    Dosen yang juga PsikologI Forensik dari Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK), Reza Indragiri Amriel, menyebut kebanyakan pelaku teror memiliki kesamaan pola pikir, yaitu fanatisme."Kesamaan mindset teroris adalah mempahlawankan kami (golongan mereka) dan mendehumanisasi kalian (masyarakat di luar golongan mereka)... fanatisme," ujar Reza Indragiri Amriel menjawab pertanyaan Tempo melalui pesan singkat, Senin 18 Januari 2016.

    Meski begitu, pada sekelompok orang yang memiliki pola pikir fanatik, tidak bisa serta merta disimpulkan orang tersebut adalah teroris. Sebab, menurut Reza, hingga saat ini penggunaan terminologi terorisme masih belum jelas. "Akar kesulitannya adalah pada penggunaan sebutan terorisme itu sendiri," kata Reza.

    Profesor Randy Borum dari Departemen of Mental Health Law and Policy, University of South Florida berpendapat, bila perilaku teroris tidak ada kaitannya dengan jiwa yang sakit (mental illness). "Kebanyakan para pelaku teror bukanlah seorang psikopat," tulis Randy Borum dalam jurnal yang ditulisnya dalam jurnal yang ditulisnya, berjudul "Psychology of Terorism" yang diunggah melalui situs www.scholarcommons.usf.edu.

    Menurut Borum, beberapa penelitian psikologi menemukan fakta, bahwa pelaku teror cenderung memiliki riwayat masa kecil yang cukup suram. Seperti kekerasan, pelecehan, ketidakadilan dan penghinaan. "Meski begitu riwayat masa kecil ini juga belum bisa menjelaskan seseorang akan menjadi teroris kelak atau tidak," kata Borum.

    Sementara Reza Indragiri menyebutkan, perilaku seseorang menjadi teroris dapat dipengaruhi oleh kualitas relasi yang dibentuk antara anak dan orang tua, serta negara. "J.Post membagi terorist menjadi dua tipe, yaitu karena perpanjangan tangan orang tua, dan pengalihan kebencian terhadap orang tua ke pihak lain, intinya ada konflik yang tidak terselesaikan," kata Reza.

    CHETA NILAWATY

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Google Doodle, Memperingati Chrisye Pelantun Lilin-Lilin Kecil

    Jika Anda sempat membuka mesin pencari Google pada 16 September 2019, di halaman utama muncul gambar seorang pria memetik gitar. Pria itu Chrisye.