Sabtu, 21 Juli 2018

Abaikan Penelitian, Masyarakat Korea Tetap Keranjingan Mi Instan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi makan mie instan. Shutterstock.com

    Ilustrasi makan mie instan. Shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Drama, film hingga reality show asal Korea Selatan senantiasa disisipi dengan adegan menyantap mi instan. Dari situ, masyarakat mulai berbondong-bondong mengunjungi toko-toko terdekat untuk mencari mi instan atau yang dikenal juga dengan nama ramyeon.

    “Aku tidak peduli dengan penelitian. Tidak akan ada yang dapat menghentikanku menikmati mi instan ini.” ujar Kim Min-koo, seorang editor film yang senantiasa menyantap mi instan sebanyak lima kali dalam seminggu.

    Kim menambahkan, “Rasanya, aromanya, tekstur mi nya – semuanya terasa sempurna.”

    Fenomena mi instan juga populer di negeri Paman Sam. Namun tidak seperti di Korea Selatan atau negara Asia lainnya, mi instan di Amerika hanya dijadikan selingan, bukan makanan utama. Sebuah rumah sakit di Dallas, Texas, Baylor Heart and Vascular Hospital meneliti kaitan mi instan yang dikonsumsi oleh kebanyakan masyarakat Korea Selatan dengan penyakit jantung.

    Studi yang dilakukan oleh Baylor Heart and Vascular Hospital tersebut jelas menimbulkan reaksi. Masyarakat Korea Selatan memang terbukti mengonsumsi lebih banyak mi instan dibanding dengan negara-negara lain.

    Kebanyakan dari mereka yang sempat diwawancara seperti Kim, mengaku bahkan bersumpah tidak akan berhenti mengonsumsi mi instan. Pecinta mi instan lain mengaku kerap mengakali mi tersebut agar menjadi sajian yang lebih menyehatkan. Mulai dari mencampurnya dengan minyak omega-3, menambahkan beberapa jenis sayuran hingga mengurangi bumbunya.

    Selanjutnya: Mi Instan Sebagai Alat Nostalgia Generasi Sepuh


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Anggota Tim Sukses Sudirman Said Dituduh Membawa Uang Narkotik

    Ian Lubis, anggota tim sukses calon gubernur Jawa Tengah Sudirman Said, disergap polisi dengan tuduhan membawa uang narkotik senilai Rp 4,5 miliar.