TEMPO.CO, Jakarta - Menghukum anak karena perilaku buruk berarti mengajarkan sesuatu yang tidak baik kepada mereka. Namun, hanya memuji anak juga dapat merusak batas benar dan salah di mata mereka. Jadi harus bagaimana?
Helen Reece dari London School of Economics and Political Science mengatakan orang tua harus mempercayai naluri mereka. Bebaskan naluri untuk mendidik anak. Jangan terlalu mempercayai 'pedoman menjadi orang tua yang baik’.
“Tidak mungkin bagi orang tua terus mengikuti positive parenting dengan terus memuji anak tanpa menghukumnya (saat mereka salah),” ujar Reece kepada Daily Mail, Jumat, 21 Juni 2013. Tidak menghukum anak saat mereka berperilaku buruk berarti tidak memberi kesempatan bagi anak untuk mengetahui mana yang benar dan mana yang tidak.
“Orang tua harus dibiarkan mempercayai naluri mereka sendiri,” tutur Reece. “Namun ini bukan berarti saya merekomendasikan apa yang harus mereka lakukan, apakah mereka akan menghukum atau tidak.”
Orang tua akan tahu kapan mereka perlu menghukum dan kapan hukuman menjadi tidak perlu. Orang tua harus mempercayai insting mereka sendiri. Merekalah yang paling tahu perbuatan anak-anaknya. Mereka juga yang paling tahu mengenai dampak apa yang akan terjadi pada anak mereka. “Positive parenting itu sulit. Dan jika gagal, akan berakibat fatal,” Reece menambahkan.
Hal ini juga didukung oleh Dr Ellie Lee dari Centre for Parenting Culture Studies, Universitas Kent, Inggris. Dia mengatakan, “Membesarkan anak memang tidak mudah. Oleh sebab itu, tidak perlu terlalu banyak campur tangan (dari saran penasihat parenting atau buku-buku). Cukup libatkan orang tua.”
DAILY MAIL | ANINGTIAS JATMIKA
Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan