Layanan Paliatif Masih Dilematis di Indonesia

Jum'at, 19 Juli 2013 | 06:39 WIB
Layanan Paliatif Masih Dilematis di Indonesia
Kantor pusat Yayasan Livestrong, lembaga amal yang didirikan Lance Armstrong untuk membantu survivor kanker pada tahun 2004, di Austin, Texas. Lance Armstrong pernah divonis menderita kanker, namun ia berhasil sembuh dan karirnya meningkat dengan menjuarai Tour de France tujuh kali berturut-turut (1999 hingga 2005), hingga akhirnya skandal penggunaan obat-obatan penambah performa menimpanya 2012 silam. REUTERS/Spencer Selvidge

TEMPO.CO , Jakarta:Paliatif berkembang sejak zaman perang di Inggris. Namun di Indonesia layanan bagi pasien penderita penyakit yang mengancam jiwa dan keluarga, ini baru diterima sebagian masyarkat Indonesia.

"Pemahaman keluarga pasien, kematian itu menakutkan dan masih banyak yang menolak kondisi paliatif pasien," ujar Susi Susilowati, suster di Yayasan Rumah Rachel dalam acara Sehati Bersama di kantor Novartis, Selasa, 16 Juli 2013. Yayasan Rumah Rachel merupakan pegiat layanan paliatif anak sejak 2006.

Paliatif, menurut Badan Kesehatan Dunia, merupakan asuhan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien dan keluarganya dalam menghadapi masalah penyakit yang mengancam jiwa. Bahasa kasarnya, perawatan menjelang kematian. Memang konsep kematian masih tabu di Indonesia. Akibatnya layanan paliatif masih dipahami secara berbeda antara keluarga, masyarakat, dan pemangku kepentingan.

Perbedaan pemahaman itu bisa diselesaikan apabila tahu kuncinya. Susi mengatakan pengasuh pasien utama merupakan kunci layanan paliatif agar bisa diterima oleh keluarga.  Karena itu, Susi menyarankan adanya pendekatan terhadap pengasuh pasien utama. "Pegang kuncinya yaitu orang yang merawat pasien secara langsung," kata perempuan yang sudah terjun ke layanan paliatif sejak 2006 itu.

Kunci tersebut memudahkan jalur perawatan diterima keluarga. Walaupun belum semua keluarga di Indonesia menggunakan pengasuh pasien utama untuk penyakit semacam itu. Namun bagi keluarga yang sudah menggunakan jasanya, pemegang keputusan dalam keluarga bisa menerima metode paliatif bagi pasien atas masukan mereka. Dengan begitu pasien tidak perlu lagi menjalani layanan kuratif yang dimaksudkan sebagai upaya penyembuhan. Mereka hanya berfokus pada persiapan menjelang kematian.

Kondisi pasien paliatif memang beragam. Namun rata-rata, pasien merupakan penderita kanker yang berujung kematian. Untuk pasien HIV positif,  ada perubahan kondisi usia harapan hidup. Perbaikan gizi buruk dan terapi ARV yang lebih rutin menjadikan kondisi pasien lebih normal.

Namun ada persoalan lain yang muncul dalam penerapan paliatif ini. Penderita kanker stadium akhir atau penderita AIDS biasanya kesakitan di atas rata-rata oleh penyakit yang menyerangnya. Morfin merupakan pendekatan yang biasanya dipakai untuk mengurangi rasa nyeri. Pasien membutuhan dosis yang tepat untuk mengirangi rasa nyeri itu. "Sayangnya di Jakarta, morfin hanya ditemukan di satu rumah sakit, " kata Rina Wahyuni, suster paliatif lain.

Padahal penggunaan morfin sering kali menjadi kontroversi dalam keluarga. Lagi-lagi, keluarga menganggap morfin sebagai barang yang menakutkan.

Pengampu layanan inipun tak lepas dari tantangan. Dekatnya hubungan layanan ini dengan kematian membuat para pekerjanya harus terbiasa bertatapan langsung dengan korban yang meninggal. Karena itu, Program Manajer Yayasan Rumah Rachel, Nurhanita menganggap pentingnya memastikan anggota timnya benar-benar siap mental menghadapinya. "Kami punya selfcare untuk membuat anggota tim tetap terjaga kewarasannya," ujar dia.

DIANING SARI

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan