Tenun Dilirik untuk Tas Etnik

Jum'at, 23 Mei 2014 | 20:00 WIB
Tenun Dilirik untuk Tas Etnik
Wisatawan belajar menenun kain ikat dengan alat tenun tradisional. TEMPO/ Nita Dian

TEMPO.CO, Jakarta - Sebagai salah satu tekstil khas Indonesia, tenun belum banyak digali dibandingkan batik. Lungsin adalah nama dagang aksesoris yang bertujuan mengeksplorasi berbagai macam jenis tenun. Lungsin sendiri berarti benang pakan yang digunakan untuk tenun. “Saat kami mulai berjualan masih ada saja yang mengira kalau tenun itu rajutan,” ujar Eksekutif Pemasaran Lungsin, Isti Paramesti, 22 tahun, kepada Tempo.

Dibentuk pada 2012 oleh Aulia Rusdi, awalnya Lungsin hanya membuat produk untuk para perempuan paruh baya. Karena ingin mengembangkan bisnisnya, Aulia menggandeng sejumlah kawan untuk ikut serta dalam manajemen produk ini. Selain Isti, ada empat orang lagi yang terlibat dalam manajemen Lungsin. Mereka antara lain, Andreas Bramantyo, Andriani, Debby Rachmanda Munadi, dan M. Said Ramadhan, dari Prasetya Mulya Business School.

Lungsin menawarkan produk berupa tas dengan aplikasi tenun, ataupun dompet koin serta kotak makan siang dari tenun. Selain itu, ada pula clutch—tas tangan kecil yang dibuat dari bermacam tenun. Mulai dari songket Palembang, hingga ulos disulap menjadi clutch. Hingga kini, ada lebih dari sepuluh jenis tenun yang diperkenalkan melalui produk-produk Lungsin.

Lalu, apakah mereka tidak sayang memotong kain-kain itu? “Kami yakin tenun bisa menjadi barang yang lebih menarik lagi dan bisa dipakai kapan pun, untuk itu kami tidak terlalu sayang memotongnya,” ujar gadis 22 tahun itu. Menurut Isti, memadukan produk tas dengan tenun juga bukan perkara mudah. Sebab, mereka harus menemukan kombinasi kain yang pas.

Ini berarti, songket Palembang belum tentu cocok untuk dijahit di tas tangan dibandingkan tenun dari Nusa Tenggara Timur. Selain mengeksplorasi tenun, Lungsin juga bermain dengan bentuk dan desain tas yang mereka rancang sendiri. Lini produk Lungsin pun akan merambah berbagai macam aksesoris atau barang tepat guna, seperti buku tulis.

Buku-buku tulis kecil itu dilapisi dengan potongan kain tenun yang menjadi kulit buku. Tenun yang mereka pakai adalah tenun baduy dengan beragam palet. Mulai dari warna biru, merah, kuning, ungu, ataupun fuschia. Ada juga tas tangan tanpa tali yang bisa dikempit di ketiak. Musababnya, kata Isti, mereka ingin produknya juga bisa digunakan oleh mereka yang berusia lebih muda.Itu sebabnya, produknya tidak melulu clutch.



Dua tahun didirikan, produk Lungsin banyak digunakan oleh kalangan sosialita ataupun eksekutif muda. “Pemakai produk Lungsin adalah para perempuan yang mengikuti mode, serta lebih melihat kualitas dibandingkan harga produk,” ujar Isti.

Namun, tidak semua orang setuju dengan langkah Lungsin memotong kain tenun untuk digunakan menjadi aplikasi aksesoris belaka. Alasannya, ada perjalanan panjang dan nilai-nilai tertentu di balik sebuah kain tenun ataupun batik. Menggunting sebuah kain dengan sembarangan, bisa dianggap sebagai 'pemerkosaan' terhadap nilai-nilai di balik kain itu.

Itulah mengapa sebuah kain tidak bisa dipotong secara serampangan. “Karena ada cerita dan filosofi tertentu di dalamnya, saya sendiri tidak berani memotong kain,” ujar Era. Lungsin memilij berhati-hati dalam memotong kain tenun yang mereka gunakan. Biasanya, mereka mengambil motif tertentu dari setiap kain tenun untuk dijahit dan ditempel sedemikian rupa pada bagian permukaan tas. 

SUBKHAN

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan