Di Konser Gelas-gelas Kaca, Nia Bergaun Blink-blink

Rabu, 06 Mei 2015 | 06:56 WIB
Di Konser Gelas-gelas Kaca, Nia Bergaun Blink-blink
Nia Daniaty. istimewa

TEMPO.COJakarta - Mengerjakan kebaya dan gaun pesta merupakan kepiawaian yang dimiliki Amy Atmanto. Namun, ketika sahabatnya, Nia Daniaty, minta dibuatkan sebuah rancangan khusus, Amy mengaku mulai berpikir serius untuk menyajikan yang terbaik.

Maklum saja, permintaan Nia itu sehubungan dengan acara Konser Gelas-gelas Kaca yang berlangsung Sabtu pekan lalu di Balai Sarbini, Jakarta Pusat.

"Nia itu sahabat saya, sudah seperti kakak sendiri. Waktu mau bikin Konser Gelas-gelas Kaca, dia bilang, ‘Ayo dong, bikinin gaun.’ Saya jadi memutar otak untuk merancang sesuatu yang tentunya harus khas buat Teteh Nia," kata Amy pada Senin, 4 Mei 2015, di Royal Palace Building, Jalan Ahmad Dahlan, Jakarta Selatan.

Pemilik butik Royal Sulam dan Royal Kaftan ini menuturkan, sesuai dengan tema konser Nia, dia menyiapkan busana mewah elegan dengan penuh taburan kristal.

"Sesuai temanya, saya membuatkan gaun seperti Barbie yang penuh dengan sentuhan blink-blink. Saya menilai konsep ini senada dengan konser Teteh Nia yang berjudul Gelas-gelas Kaca, jadi saya deskripsikan melalui busana tersebut," ucap Amy.

Dalam rancangannya kali ini, Amy menghadirkan gaun modern full sequin dengan taburan kristal dan bordir serta paduan warna shocking pink dan bluish turquoise.

Wanita berambut panjang ini menjelaskan, meski gaunnya terlihat sangat modern, dia tetap memberikan sentuhan Indonesia. "Teteh Nia kental dengan nuansa Bandung-nya. Maka saya menghadirkan bordir Tasik untuk detail dada dan lengan di gaun tersebut," kata dia. 

Amy mengakui bahwa Nia Daniaty merupakan sosok seorang bintang yang tak pernah pudar.

"Teteh Nia itu meski tergolong senior tetapi memiliki semangat yang masih prima dalam berkarya. Kualitas suaranya juga sangat bagus," tuturnya.

HADRIANI P.

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan