Jemput Bola, Perancang Asia Berlaga di Panggung Indonesia

Rabu, 06 Mei 2015 | 19:05 WIB
Jemput Bola, Perancang Asia Berlaga di Panggung Indonesia
Dewi Sandra tampil bersama para model dalam gelaran Senayan City Fashion Nation Ninth Edition, di Jakarta, 17 April 2015. TEMPO/Nurdiansah

TEMPO.CO, Jakarta - Aida Nurmala harus terbang ke Bangkok, Thailand, untuk berburu desainer. Aktris, sosialita, sekaligus pemilik firma mode Studio One itu punya misi mengundang desainer-desainer Asia dalam peragaan busana Runway Hits pada April lalu, yang digelar untuk keempat kalinya tahun ini.

Runway Hits, yang dihelat sejak 2012, merupakan bagian dari Fashion Nation, hajatan tahunan mode pusat belanja Senayan City. Tahun ini, mereka mengusung tema “Celebrasian”. Itu sebabnya, Aida merasa perlu terbang ke Bangkok mencari desainer pakaian siap pakai.

"Untungnya, mereka memberi sinyal positif saat akan diundang," kata Aida kepada Tempo akhir April lalu.

Aida bersama timnya melakukan kurasi untuk memilih desainer-desainer yang bakal ditampilkan dalam Runway Hits setiap tahunnya.

Setelah mengundang desainer Joe Chia asal Malaysia dan Rayson Tan dari Singapura tahun lalu, Aida dan tim memilih Q Design and Play asal Thailand serta Atsushi Takahasi dari Jepang. Dia menilai dua desainer tersebut sangat kreatif meskipun relatif baru berkembang. "Kami sengaja memilih emerging designers untuk Runway Hits," kata dia.

Dari Tanah Air, Aida memilih dua nama, yaitu desainer Stella Rissa dan label Austere by Tri Handoko. Keduanya sebenarnya bukan nama baru di dunia mode. Stella dan Tri sudah wira-wiri di kancah mode paling tidak selama satu dekade terakhir. "Well, basically they are my designers and my good friends," ujar Aida, yang mengenakan jumpsuit karya Stella.

Stella—yang tidak hadir karena sedang berada di New York untuk urusan keluarga—membuka peragaan yang berlangsung pada Sabtu malam, dua pekan lalu. Siluet feminin dan sedikit sporty ala Stella muncul dalam gaun pendek, setelan blus, atau jumpsuit dengan detail transparan pada beberapa baju. Beberapa blusnya terlihat sangat berani karena membuat peragawati yang mengenakan blus tersebut terlihat seperti mengenakan jaket pendek tanpa dalaman apa pun. Tapi tentu itu hanya ilusi karena sebenarnya Stella menjahitkan bahan tipis yang senada dengan warna kulit sebagai penutup tubuh.

Stella tampaknya terinspirasi oleh bunga dalam koleksinya kali ini. Itu sebabnya, dalam video yang menjadi pembuka peragaan, ada bunga lili yang bermekaran dengan semburat warna merah muda. Warna putih, magenta, dan biru menjadi palet koleksi ini. Tapi, dalam pertengahan koleksinya, keseimbangan warna tersebut terganggu karena Stella memasukkan palet oranye. Dia bahkan memadukan warna oranye dengan biru muda atau putih. Paduan ini terasa janggal dan sedikit mengganggu keseluruhan koleksi yang sebenarnya cukup baik itu.

Sementara itu, Tri Handoko melalui label Austere—ini merupakan label yang baru diluncurkan pada Oktober 2014—menampilkan koleksi dengan keseluruhan warna putih. Ada setelan blus dengan detail potongan asimetris, dan celana dengan kantong di mata kaki. Mengusung tema “Ronin”, Tri menampilkan seluruh peragawatinya dengan tudung penutup kepala serta jaring di wajah. Sepintas, ada percikan darah di wajah mereka. Tapi tenang saja, tidak ada yang memukuli mereka di belakang panggung. Itu semua hanya tata rias.

Kesetiaan para pendekar terhadap tuannya hingga tetes darah terakhir menjadi inspirasi Tri. Pemilihan warna serba putih pun sebenarnya mengikuti konsep itu. "Kalau Anda pernah nonton film Ronin, di bagian terakhir film saat mereka bunuh diri, semuanya mengenakan pakaian putih," kata Tri.

Itu sebabnya, wajah para peragawati terlihat sendu. Koleksi Austere kali ini, menurutl Tri, memang punya karakter berbeda jika dibandingkan dengan koleksi perdananya yang menyuguhkan sosok perempuan bebas dan sangat kuat.

"Ini mungkin bisa dibilang sisi gelap saya yang tidak banyak orang yang tahu," kata Tri.

SUBKHAN | HP

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan