Sabtu, 19 Agustus 2017

Generasi Langgas di Mata Yoris Sebastian

Jum'at, 13 Januari 2017 | 14:00 WIB
Generasi Lenggas. tokopedia.net

Generasi Lenggas. tokopedia.net.

TEMPO.CO, Jakarta -Ingin serba cepat, mudah berpindah pekerjaan dalam waktu singkat, kreatif, dinamis, generasi melek teknologi, dekat dengan media sosial, dan lain sebagainya. Ciri-ciri di atas adalah hanya sebagian saja yang menggambarkan generasi yang disebut milenial ini. Generasi yang lahir di antara tahun 1980-an hingga 2000-an, memang memiliki ciri yang unik dibandingkan baby boomers atau gen X. Seringkali ciri tersebut bertentangan dengan dua generasi sebelumnya tersebut.

Untuk memberikan pendapat yang berbeda, Yoris Sebastian, seorang praktisi kreatif dan pendiri OMG Consulting, bersama Dilla Amran (co-writer) dan Youth Lab, menulis sebuah buku yang diberi judul Generasi Langgas. Langgas sendiri merupakan sebutan dari OMG Consulting yang ditujukkan untuk milenial. Hal ini karena generasi ini sangat bebas dalam memilih, baik karir, sekolah, dan berbagai hal yang dilakukan misalnya menjadi seorang entrepreneur>

“Mereka lebih vocal dan jika ingin memberitahu mereka sertakan dengan alasan yang masuk akal. Yang tahu milenial ya diri mereka sendiri. Mereka memiliki banyak pilihan dan peluang untuk maju,” ujar pria yang lebih suka menyebut dirinya pecandu kreativitas ini.

Dalam buku yang telah dicetak sebanyak 9.500 eksemplar ini, Yoris dan rekan penulis membuat pandangan lain mengenai milenial. Setelah melakukan riset di 5 kota, ia mendapat gambaran yang luas mengenai generasi yang di tahun 2020-2030 akan mencapai usia produktif ini. Generasi ini memiliki rasa solidaritas tinggi terhadap kelompok. Mereka cenderung membentuk komunitas misalnya, komunitas pelestarian budaya di Desa Panglipuran, Bali. Lalu dengan berkembanganya teknologi dan derasnya arus informasi, membuat milenial belajar mengenai apa yang perlu diadopsi sesuai dengan karakter mereka masing-masing.

Ia memberi contoh, di Kota Malang dan Yogyakarta, banyak milenial yang bergabung di komunitas-komunitas travelling. Tujuannya adalah untuk menemukan lokasi wisata yang baru sehingga dapat turut serta memajukan sektor pariwisata. Selain itu, mereka sangat percaya diri khususnya berkaitan dengan breaking the norms. Bagi mereka, adanya aturan atau prosedur menjadi halangan untuk berkarya.


“Mereka tetap berproses dengan gaya mereka sendiri. Mereka bukan generasi instan, tapi generasi serba cepat,” tambahnya. Begitu banyaknya peluang dan pilihan yang bisa milenial ambil, ditambah dengan kemajuan teknologi informasi, milenial harus pandai memilah dan memilih konten yang diperlukan, jangan mudah menyerah, berinovasi, dan produktif.

Tidak hanya itu, mereka harus fokus pada ikigai atau a reason to wake up ach morning. Orang Jepang percaya tiap orang memiliki ikigai. “Ini dimulai dengan pertanyaan, ‘bidang apa yang kamu sangat kuasai?’, lalu ‘apa yang kamu sukai?’, ‘apakah dunia membutuhkannya?’, sehingga ‘bisakah kamu menghasilkan uang dari hal itu?”, ujarnya menutup pembicaraan.










SWA