Tetap Bersahabat Setelah Putus Cinta Itu Omong Kosong

Kamis, 20 April 2017 | 15:12 WIB
Tetap Bersahabat Setelah Putus Cinta Itu Omong Kosong
Ilustrasi pasangan putus. shutterstock.com

TEMPO.CO, Jakarta --Persahabatan setelah putus cinta? Itu omong kosong. Setidaknya, menurut Alain de Botton, vloger dan penulis Inggris, persahabatan semacam itu jarang berhasil.



Baca juga: Anda Putus Cinta? Simak 4 Tips Ini Supaya Tetap Move ...



Memang terdengar manis. Sepasang kekasihmemilih memutuskan hubungan karena suatu sebab. Namun, demi entah apa, mereka berjanji tetap manjai sahabat. Mungkin saja dalihnya, adalah karena masih saling peduli satu sama lain, tapi tidak mau terikat komitmen hubungan cinta.



Dalam 'persahabatan' semacam ini keduanya masih bisa jalan bareng, nonton di bioskop bersama, atau kegiatan bersama lainnya. Jika butuh teman mengobrol, tinggal telpon. Tetapi, janjinya, tidak boleh saling cemburu saat salah satunya dekat dengan orang lain.



Pendek kata, hubungan ini jadi hubungan yang 'nanggung'.



Alain de Botton mengatakan hubungan persahabatan setelah putus jarang sekali berhasil. "Kita ingin menjadi orang yang dianggap baik termasuk selalu berusaha menjadi teman untuk setiap mantan," jelas Alain.



Baca juga: Waspada, Ini Penyebab Putus Cinta

Tapi sebenarnya 'persahabatan' ini justru akan bikin makin sakit hati terutama buat yang diputusin. "Jadi teman mantan itu justru semacam penghinaan sebenarnya," kata Alain.



Akibatnya, bukannya kenyamana yang diperoleh, tapi malah lebih tersakiti. Karena kadang kondisinya jelas, yang satu ingin 'balikan' sedangkan yang satu lagi 'tidak ingin balikan'.

Alain de Botton mengatakan 'persahabatan' tidak bisa menggantikan cinta. Yang paling tepat dilakukan setelah putus adalah menjaga jarak. Dengan begitu, akan ada ruang untuk menenangkan diri dan beristirahat dari memori-memori indah hubungan yang 'menyiksa'.




TABLOIDBINTANG.COM

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan