4 Mitos Vs Fakta Minyak Zaitun

Senin, 17 Juli 2017 | 15:31 WIB
4 Mitos Vs Fakta  Minyak Zaitun
Ilustrasi minyak zaitun. itsfordinner.com

TEMPO.CO, Jakarta - Minyak zaitun dipercaya sebagai hadiah dari Tuhan, terutama manfaat yang ditawarkan olehnya bagi kesehatan manusia. Tentu tidak semua minyak dapat dikonsumsi (dimakan). Hanya minyak-minyak yang berhasil melalui proses standarisasi yang dapat dikonsumsi.

Baca: 3 Resep Minyak Zaitun untuk Mengobati Infeksi Telinga

Menjaga kesehatan jantung hingga mengatur regulasi gula dalam darah merupakan dua dari sekian banyak manfaat minyak yang mengandung vitamin dan antioksidan tersebut. Sayangnya, tidak semua orang menyadari manfaat minyak zaitun. Beberapa orang bahkan enggan mengonsumsinya.

Mungkin mereka bingung membedakan mana yang lebih baik, minyak zaitun murni atau minyak zaitun berkualitas terbaik, grade A (extra virgin). Atau terminologi lain yang sama-sama tidak masuk akal, seperti cold-pressed olive oil.

Pada dasarnya semua minyak zaitun dengan kualitas (grade) A dibuat dengan hydraulic press  bertekanan besar untuk mengekstrak jumlah maksimum cairan dalam buah zaitun (cold-pressed).

Berikut mitos vs fakta minyak zaitun yang wajib Anda ketahui.

Mitos #1: Minyak zaitun didinginkan dalam kulkas dan membeku, minyak zaitun tersebut 100 persen asli dan berkualitas tinggi
Fakta: Keaslian minyak zaitun tidak dapat dites dengan peralatan di rumah. Beberapa jenis minyak yang didinginkan di dalam kulkas ada yang membeku da nada yang tidak. Cara terbaik untuk menentukan kualitas adalah dengan aroma dan rasa – sementara keaslian hanya dapat diuji menggunakan alat-alat di laboraturium.

Mitos #2: Minyak zaitun berwarna hijau merupakan minyak zaitun berkualitas tinggi.
Fakta: Warna bukan indikator kualitas minyak zaitun. Kualitas minyak zaitun sendiri tidak dapat dilihat dari bentuk generik produk. Faktor seperti varietas buah, kondisi cuaca, tanah dan tempat asal buah tersebut diolah hingga menjadi minyak – dari yang warnanya kuning pucat hingga hijau tua – dan seberapa cepat minyak tersebut membeku saat disimpan dalam kulkas merupakan penentu kualitas minyak zaitun.

Mitos #3: Panas akan menghilangkan manfaat minyak zaitun, itu sebabnya minyak zaitun grade A lebih baik dikonsumsi lansung (tidak digunakan untuk memasak).
Fakta: Rasa minyak zaitun mungkin akan berubah saat dipanaskan, namun manfaatnya tidak akan hilang. Anda dapat memasak apapun dengan jenis minyak zaitun apapun tanpa harus takut kehilangan manfaat. Sebab, titik panas minyak zaitun lebih tinggi daripada minyak sayur biasa.

Mitos #4: Minyak zaitun tidak dapat digunakan untuk memasak, menggoreng atau menumis.
Fakta: Di India, lokasi dimana tiga jenis minyak zaitun berkualitas tinggi (grade A) ditemukan – extra virgin, pure dan extra light, menggunakan minyak tersebut untuk memasak. Yang perlu Anda ketahui ialah kualitas (grade) masing-masing jenis minyak zaitun. Sebab, masing-masing jenis memiliki aroma, rasa dan titik didih (panas) berbeda.

Misalnya, extra virgin olive oil, memiliki rasa yang kuat dibanding minyak zaitun lain namun titik didih (panas) nya paling rendah. Pure olive oil memiliki titik didih (panas) cukup tinggi namun rasanya kurang, itu sebabnya kerap dimanfaatkan untuk memasak piza, pasta atau menumis sayuran. Terakhir, extra light olive oil tidak memiliki rasa sama sekali dan dapat digunakan untuk memasak atau menggoreng sehari-hari.

THE INDIAN EXPRESS | ESKANISA RAMADIANI

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan