Kamis, 21 September 2017

Tes Keperawanan kata Psikolog: Penting tapi Bukan untuk Dites

Selasa, 12 September 2017 | 19:58 WIB
TEMPO/ Fransiskus.S

TEMPO/ Fransiskus.S.

TEMPO.CO, Jakarta - Hakim Binsar Gultom mengusulkan tes keperawanan sebelum menikah untuk menekan tingkat perceraian di Indonesia. Dalam bukunya berjudul 'Pandangan Kritis Seorang Hakim', Binsar mengatakan banyak perkawinan yang kandas akibat dimulai dengan terpaksa, termasuk karena hamil di luar nikah.

Lalu, pentingkah tes keperawanan sebelum pernikahan? Psikolog A. Kasandravati Putranto, mengatakan tes keperawanan berarti kekerasan terhadap perempuan karena mengandung diskriminasi.

"Keperawanan penting tapi bukan untuk dites-tes," kata Kasandra kepada Tempo, Selasa, 12 September 2017. Menurut Kasandra, tes keperawanan merupakan kemunduran ke zaman abad pertengahan.

Baca juga:
Waspadai Diabetes, Gejalanya Bisa Haus dan Mudah Lapar
Perfeksionis? Mungkin Anda Penggila Kerja, Simak 5 Tanda Lainnya
Laudya Cynthia Bella Memilih Duda, Intip 10 Triknya Agar Bahagia


"Hanya negara-negara dengan peradaban rendah dan tertinggal yang masih melakukan ini," ujarnya. Kasandra menegaskan, negara yang menghargai kesetaraan gender dan anti kekerasan tidak akan melakukan tes keperawanan.


Di tempat terpisah, Psikolog dari Rumah Sakit Mata Jakarta Eye Center Ine Indriani, menyebutkan untuk membangun sebuah pernikahan, yang paling utama adalah kepercayaan dan loyalitas masing-masing pasangan. "Komitmen setelah menikah yang dibutuhkan. Kalau penting tidaknya tes keperawanan, itu tergantung value atau nilai yang dipegang tiap-tiap pasangan," kata Ine.

AFRILIA SURYANIS


Selengkapnya
Grafis

Libur Nasional 2018 dan Waktu Cuti yang Cocok Kita Ambil

Libur Nasional 2018 dan Waktu Cuti yang Cocok Kita Ambil

Tempat-tempat yang patut dikunjungi saat libur nasional tahun 2018, tamasya semakin asyik bila kita memperpanjang waktu istirahat dengan mengambil cuti.