Jumat, 22 September 2017

Asap Rokok Sekunder dan Tersier, Mana Lebih Berbahaya?

Kamis, 14 September 2017 | 21:30 WIB
Seorang peserta membuat bulatan dari asap rokok elektrik yang dikeluarkannya dari dalam mulutnya di Henley Vaporium di Lower Manhattan, New York, 26 Juli 2014. REUTERS

Seorang peserta membuat bulatan dari asap rokok elektrik yang dikeluarkannya dari dalam mulutnya di Henley Vaporium di Lower Manhattan, New York, 26 Juli 2014. REUTERS.

TEMPO.CO, Jakarta - Hampir semua risiko penyakit perokok aktif bisa muncul pada perokok pasif. Begitu kata Dokter spesialis paru dewasa dari Rumah Sakit Persahabatan Agus Dwi Susanto dalam diskusi ruang publik di Jakarta Pusat, Kamis, 14 September 2017.

Disebutkan bahwa perokok pasif memiliki risiko penyakit yang hampir sama dengan perokok aktif. Risiko penyakit itu mulai dari jenis ringan seperti infeksi saluran pernapasan, asma, hingga kanker.

Agus mengatakan, yang membahayakan tubuh bukanlah rokok, melainkan asap rokok yang terhirup. Penelitian Rumah Sakit Persahabatan terhadap anak-anak Cijantung, Jakarta Timur yang anggota keluarganya merokok di rumah, menunjukkan bahwa nikotin dalam urin sang anak lima kali lebih tinggi ketimbang anak-anak hidup dengan bukan perokok aktif. Penelitian tersebut dilakukan pada 2014. Baca:Bantuan pada 7-10 Menit Pertama, Otak pun Bakal Aman

Adapun dua jenis asap rokok, yakni asap rokok sekunder dan asap rokok tersier. Asap rokok sekunder berasal dari asap perokok yang dihembuskan sekaligus yang keluar di lingkungan sekitar. Mereka yang menghirup asap rokok ini dinamakan perokok pasif.

Sementara asap rokok tersier adalah residu atau sisa-sisa yang tertinggal di lingkungan sekitar dan menempel di perabot rumah tangga, baju, sofa, debu, bahkan kulit. Artinya, asap rokok tersier merupakan asap rokok dari perokok aktif yang menempel di sekitar kita. Asap rokok tersier, jelas Agus, mengandung nikotin atau zat berbahaya lainnya bila terhirup.


"Ini adalah bahan sisa karena asap itu yang hilang oleh ventilasi tapi partikelnya masih nempel," jelasnya.

Namun, bahayanya adalah zat-zat sisa ini tak bisa hilang dalam kurun waktu tahun. Terlebih lagi asap rokok tersier memiliki dampak yang sama, yaitu mengganggu fungsi saluran pernapasan dalam jangka panjang.

Menurut Agus, secara teori terdapat rambut-rambut bersih dalam saluran pernapasan manusia. Bila terus-menerus dipenuhi zat berbahaya dapat mengurangi fungsi pernapasan dan mengganggu sistem kekebalan yang berdampak pada infeksi. Baca:Serangan Jantung pada Pria Lebih spesifik, Begini Gejalanya

Meski begitu, Agus mengungkapkan, masyarakat tak perlu khawatir bila asap rokok sekunder atau tersier hanya terhirup sesekali. Sebab, zat berbahaya dalam tubuh akan keluar antara dua hingga tiga hari setelah terhirup.

"Tapi kalau asap rokok terus-menerus (terhirup) enggak akan bisa pernah bersih. Dia (zat berbahaya) lama-lama numpuk," terang Agus.

LANI DIANA


Selengkapnya
Grafis

Libur Nasional 2018 dan Waktu Cuti yang Cocok Kita Ambil

Libur Nasional 2018 dan Waktu Cuti yang Cocok Kita Ambil

Tempat-tempat yang patut dikunjungi saat libur nasional tahun 2018, tamasya semakin asyik bila kita memperpanjang waktu istirahat dengan mengambil cuti.