Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini


atau Daftar melalui

Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

Penanganan Stunting Tak Cukup Hanya dengan Makanan Tambahan

Reporter

image-gnews
Ilustrasi stunting. freepik.com
Ilustrasi stunting. freepik.com
Iklan

TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan, Maria Endang Sumiwi, menjelaskan penanganan stunting tidak hanya dengan pemberian makanan tambahan tetapi perlu melihat faktor lain yang menyebabkan anak di bawah 5 tahun atau balita sulit berkembang.

“Yang menyebabkan stunting tidak hanya makanan. Ada yang balita sakit, jadi sakitnya ini yang harus ditangani terlebih dulu atau misal kondisi rumahnya harus diperbaiki. Stunting ini ada banyak pemangku kepentingan yang terlibat, kuncinya tidak melulu hanya intervensi gizi, perlu ditambah intervensi lainnya,” jelas Endang.

Ia menjelaskan Kemenkes selama ini memang fokus pada penanganan spesifik atau langsung kepada sasaran, yakni ibu hamil dan balita, untuk penanganan stunting yang berupa perbaikan gizi lewat pemberian makanan tambahan.

“Kalau menemukan masalah gizi pada balita, mulai dari berat badan tidak naik, itu sudah diberikan makanan tambahan lokal selama dua minggu. Kalau berbeda lagi masalah gizinya, diberikan makanan selama empat minggu, ada yang sampai delapan minggu. Dan kalau ibu hamil bermasalah gizi, diberikan makanan selama 120 hari,” paparnya.

Kreatif mengolah pangan
Sebelumnya, Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Hasto Wardoyo, mengatakan masyarakat perlu lebih kreatif dalam mengolah pangan lokal untuk menangani stunting.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

"Jika dilihat dari sisi anggaran dan sumber daya pangan lokal yang melimpah seperti ikan sungai yang kaya omega-3 dan protein, tentunya tidak sulit untuk mencari sumber pangan yang penting untuk penanganan stunting. Tetapi sumber daya manusia juga harus dilatih, bagaimana mengolah ikan dan pemberian makanan tambahan yang sehat dan menarik," ujar Hasto.

Ia juga menyampaikan pentingnya intervensi 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) yang menjadi kunci menyiapkan generasi berkualitas, juga pemberian ASI eksklusif yang sangat penting untuk kunci sukses penurunan stunting.

"ASI mengandung oksitosin dan prolaktin yang penting untuk pertumbuhan bayi dan perkembangan otak sehingga seorang ibu harus mampu menyusui minimal dua tahun, sesering mungkin," imbau Hasto.

Pilihan Editor: Perlunya Kreativitas Keluarga Mengolah Pangan Lokal agar Tak Tergantung pada Mi

Iklan

Berita Selanjutnya



Rekomendasi Artikel

Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

 

Video Pilihan


Penyebab Anak Picky Eater Menurut Ahli Gizi

4 hari lalu

Ilustrasi anak makan. Pixabay.com/EdMontez
Penyebab Anak Picky Eater Menurut Ahli Gizi

Penyakit hingga masalah sensorik dapat menyebabkan anak suka pilih-pilih makanan atau picky eater. Ini kata ahli gizi.


Cara Indah Permatasari Terapkan Pola Pengasuhan Anak

9 hari lalu

Indah Permatasari untuk pertama kalinya memperlihatkan wajah buah hatinya bersama Arie Kriting, Kamis, 16 Mei 2024. Foto: Instagram/@indahpermatas.
Cara Indah Permatasari Terapkan Pola Pengasuhan Anak

Indah Permatasari mengaku saat ini masih belajar memahami anaknya dan belajar menjadi orang tua yang baik dengan pola asuh pilihannya.


Pakar Diet Jelaskan Cara Menyimpan Susu yang Baik

11 hari lalu

Ilustrasi susu. Foto: Pixabay.com/pezibear
Pakar Diet Jelaskan Cara Menyimpan Susu yang Baik

Pakar diet menjelaskan menyimpan susu sesuai jenisnya akan menjaga kualitas dan nilai gizi sehingga tetap mendapat manfaat sehatnya.


Kisah Dini, Bidan di Desa Terpencil Uzuzozo NTT yang Berantas Stunting dan Selamatkan Ibu Hamil

13 hari lalu

Theresia Dwiaudina, bidan di Desa Uzuzozo NTT. TEMPO/ Abul Ala Maududi Ilhamda.
Kisah Dini, Bidan di Desa Terpencil Uzuzozo NTT yang Berantas Stunting dan Selamatkan Ibu Hamil

Kisah Dini, bidan di desa terpencil Uzuzozo NTT yang gigih membantu ibu-ibu hamil serta memberantas stunting.


Insiden Mom Shaming yang Diungkap HCC Menimpa Sebagian Besar Ibu-ibu Indonesia

18 hari lalu

Ilustrasi wanita cemas. Freepik.com/Wayhomestudio
Insiden Mom Shaming yang Diungkap HCC Menimpa Sebagian Besar Ibu-ibu Indonesia

Hasil rilis studi HCC menyebut 7 per 10 ibu responden alami mom shaming di Indonesia. Apakah mom shaming itu?


Hari Keluarga Nasional, Perempuan Berperan Besar Tentukan Nasib Bangsa

21 hari lalu

Ilustrasi keluarga. Freepik.com/Lifestylememory
Hari Keluarga Nasional, Perempuan Berperan Besar Tentukan Nasib Bangsa

Intervensi kepada remaja putri sangat diperlukan untuk menciptakan keluarga yang berkualitas.


Pentingnya Momen Harganas untuk Tekan Angka Perceraian

21 hari lalu

Ilustrasi keluarga. Freepik.com/Lifestylememory
Pentingnya Momen Harganas untuk Tekan Angka Perceraian

Harganas ke-31 menjadi momen penting untuk menekan angka perceraian. Berikut penjelasan Kepala BKKBN.


Kabupaten Batang Hari Sukses Tekan Stunting, Terima Penghargaan

22 hari lalu

Wakil Bupati Batang Hari Bakhtiar menerima penghargaan dari BKKBN di Hari Keluarga Nasional 2024 ke-31 di Semarang, Jawa Tengah, Jumat 28 Juni 2024. Batang Hari dianugerahi tanda penghargaan untuk percepatan penurunan stunting, SKI 2023.
Kabupaten Batang Hari Sukses Tekan Stunting, Terima Penghargaan

Angka stunting di Batang Hari dari 26,3 persen menjadi 10,1 persen.


Pentingnya Ikatan Batin Ibu dan Anak untuk Tumbuh Kembang

23 hari lalu

Ilustrasi ibu bahagia saat mencium anaknya. Foto: Unsplash/Humberto Chavez
Pentingnya Ikatan Batin Ibu dan Anak untuk Tumbuh Kembang

BKKBN mengatakan ikatan batin antara ibu dan anak dapat mempengaruhi tumbuh kembang bayi, termasuk mencegah stunting.


Suami Istri di Kediri Mengaku Kesal Hingga Aniaya Anak Mereka yang Masih Balita, Jenazahnya Dikubur Samping Rumah

24 hari lalu

Polisi saat olah TKP di lokasi bocah dikuburkan diduga meninggal setelah dianiaya orangtuanya di Kediri, Jawa Timur, Selasa 25 Juni 2024. ANTARA/ HO-polisi
Suami Istri di Kediri Mengaku Kesal Hingga Aniaya Anak Mereka yang Masih Balita, Jenazahnya Dikubur Samping Rumah

Suami istri di Kediri menganiaya anak mereka yang masih balita hingga tewas. Polisi menduga penganiayaan tekah terjadi berulang kali.