Gejala Depresi yang Perlu Anda Tahu

Reporter

Bisnis.com

Sabtu, 20 Februari 2021 09:40 WIB

Ilustrasi depresi. Shutterstock

TEMPO.CO, Jakarta - Menjaga kesehatan mental adalah tantangan besar kala pandemi Covid-19. Pembatasan sosial dan ketidakpastian kapan Covid-19 berakhir menjadi faktor pemicu utama. Salah satu masalah kesehatan mental yang menjadi perhatian serius adalah depresi.

Kondisi yang jauh lebih serius dapat berdampak lama pada kesehatan mental dan fisik yang mengalaminya. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), depresi menjadi penyebab utama kecacatan di seluruh dunia dan India adalah salah satu negara yang paling banyak penderitanya. Kebanyakan orang tidak mencari bantuan psikologis karena stigma sosial atau kurangnya pengetahuan, yang dapat memperburuk kondisi.

Melansir Times of India, depresi digambarkan sebagai gangguan suasana hati dengan perasaan sedih, kesepian, dan kehilangan minat yang terus-menerus. Ini adalah masalah jangka panjang, dipicu oleh peristiwa besar yang mengubah hidup seperti kehilangan atau kehilangan pekerjaan, bisa berlangsung beberapa minggu hingga bertahun-tahun.

Para ahli di bidangnya belum dapat memahami sepenuhnya penyebab depresi, namun ada kemungkinan besar hal itu dipicu oleh kombinasi beberapa faktor, seperti fitur genetik, perubahan tingkat neurotransmitter otak, lingkungan, faktor psikologis dan sosial, hingga gangguan bipolar dan kondisi lain.

Baca juga: Pakar Ungkap Faktor yang Bisa Ganggu Kesehatan Mental di Masa Pandemi COVID-19

Advertising
Advertising

Kesedihan terus-menerus
Merasa rendah diri dari waktu ke waktu adalah bagian dari kehidupan normal. Namun, mengalami suasana hati yang tertekan selama lebih dari dua minggu berturut-turut bisa menjadi tanda depresi. Orang yang menderita depresi mungkin sering merasa sedih atau menangis. Mereka sering kali merasakan semacam kehampaan. Anak-anak dan orang dewasa yang lebih tua mungkin tampak lebih kesal daripada sedih.

Kehilangan minat
Gejala umum kedua adalah hilangnya minat atau kesenangan pada hal-hal yang pernah dinikmati. Dalam istilah medis, kondisi ini disebut juga dengan anhedonia. Dalam fase ini, orang biasanya menarik diri dari aktivitas yang biasa dilakukan, seperti olahraga, hobi, atau jalan-jalan dengan teman. Mereka mungkin juga kehilangan minat pada seks.

Kelelahan dan tidur berlebihan
Tidur tampaknya menjadi cara terbaik untuk melepaskan diri dari masalah bagi penderita depresi. Mereka umumnya merasa sangat lelah dan malas karena perasaan yang berlebihan sehingga banyak tidur. Dalam beberapa kasus, depresi dapat menyebabkan insomnia dan kegelisahan di malam hari.

Perubahan nafsu makan
Perubahan nafsu makan atau penurunan berat badan yang drastis adalah tanda depresi lain. Ini bahkan dapat bekerja dalam dua cara, yakni orang mulai makan banyak atau hanya kehilangan minat dalam menyiapkan makanan, mungkin juga tidak merasa lapar sama sekali. Orang yang menderita depresi tidak makan lebih atau kurang dengan sengaja, hanya merasa tidak mau makan atau mungkin sangat lapar.

Kegelisahan
Kecemasan dan depresi sering saling dikaitkan. Kecemasan yang parah sering kali menyebabkan depresi. Gugup, gelisah, perasaan bahaya, detak jantung cepat, napas cepat, gemetar, atau otot berkedut adalah beberapa tanda kecemasan yang umum.

Emosi yang tidak terkontrol
Perubahan suasana hati yang drastis, di mana satu menit orang tersebut merasa bahagia dan gembira kemudian meledak dalam amarah bisa menjadi tanda dari gangguan mental. Orang yang merasa depresi seringkali mengalami perubahan suasana hati yang drastis tanpa alasan tertentu.

Merasa tidak berharga
Depresi dapat mengubah cara memandang dunia. Anda mungkin mulai menemukan diri tidak menarik dan berharga. Rasa bersalah, kegagalan, dan kesulitan dalam melepaskan masa lalu dapat menambah kekhawatiran. Bahkan, kesalahan kecil pun bisa membuat Anda merasa tidak berharga atau menimbulkan perasaan benci pada diri sendiri.

Masalah konsentrasi
Kurangnya konsentrasi atau kesulitan membuat keputusan juga merupakan tanda umum depresi. Orang yang menderita depresi sering kali menyadari mereka berjuang untuk berpikir jernih dan tetap fokus. Gejala depresi ini lebih sering terjadi pada lansia.

Sementara itu, depresi adalah gangguan mental yang dapat diobati dengan terapi perilaku kognitif, pengobatan, dan dukungan dari keluarga. Obat untuk mengobati depresi hanya boleh diminum atas anjuran dokter.

Beberapa obat membutuhkan waktu untuk menunjukkan hasil positif dalam suasana hati dan perilaku. Tetapi Anda tidak boleh berhenti minum obat depresi secara tiba-tiba karena dapat menyebabkan kambuh.

Obat antidepresan mungkin memiliki beberapa efek samping yang aneh pada beberapa orang, seperti mual, sembelit, diare, gula darah rendah, penurunan berat badan dan ruam kulit. Di sisi lain, depresi bisa menyebabkan risiko jangka panjang.

Jika tidak ditangani terkadang penderita depresi bisa melakukan aksi bunuh diri. Orang yang mati karena bunuh diri tidak ingin mengakhiri hidup, hanya ingin mengakhiri rasa sakit. Orang-orang ini menunjukkan gejala atau tanda sebelum mengambil langkah drastis.

Berita terkait

5 Cara Menghilangkah Sifat Toxic

5 jam lalu

5 Cara Menghilangkah Sifat Toxic

Berikut adalah beberapa langkah yang dapat membantu seseorang menyembuhkan sifat toxic.

Baca Selengkapnya

8 Tanda-Tanda Perlu Konsultasi Kesehatan Mental ke Psikiater

7 jam lalu

8 Tanda-Tanda Perlu Konsultasi Kesehatan Mental ke Psikiater

Ketahui tanda-tanda kita perlu konsultasi kesehatan mental ke psikiater. Salah satunya adalah gangguan tidur kronis yang sering dialami.

Baca Selengkapnya

Cuaca Panas Ekstrem Sebabkan Heat Stroke, Ini yang Perlu Diwaspadai

1 hari lalu

Cuaca Panas Ekstrem Sebabkan Heat Stroke, Ini yang Perlu Diwaspadai

Cuaca panas ekstrem yang terjadi di Asia berpotensi menyebabkan heat stroke. Apa saja yang perlu diwaspadai?

Baca Selengkapnya

Dampak Cuaca Panas Ekstrem pada Kesehatan Mental

3 hari lalu

Dampak Cuaca Panas Ekstrem pada Kesehatan Mental

Penelitian menyebut cuaca panas ekstrem dapat berdampak besar pada kesehatan mental. Berikut berbagai dampaknya.

Baca Selengkapnya

Jaga Kesehatan Mental dengan Hindari Pacaran di Usia Anak

3 hari lalu

Jaga Kesehatan Mental dengan Hindari Pacaran di Usia Anak

KemenPPPA meminta pacaran pada usia anak sebaiknya dihindari untuk menjaga kesehatan mental.

Baca Selengkapnya

Penyebab Sulit Redakan Kesedihan karena Kehilangan Orang Tersayang

4 hari lalu

Penyebab Sulit Redakan Kesedihan karena Kehilangan Orang Tersayang

Kehilangan orang yang disayangi memang berat. Tak jarang, kesedihan bisa berlangsung lama, bahkan sampai bertahun-tahun.

Baca Selengkapnya

Ibu Hamil Konsumsi Paracetamol, Apa yang Perlu Jadi Perhatian?

6 hari lalu

Ibu Hamil Konsumsi Paracetamol, Apa yang Perlu Jadi Perhatian?

Ibu hamil mengonsumsi paracetamol perlu baca artikel ini. Apa saja yang harus diperhatikan?

Baca Selengkapnya

Perkokoh Kesehatan Mental dengan 4 Tips Berikut

7 hari lalu

Perkokoh Kesehatan Mental dengan 4 Tips Berikut

Psikolog menyarankan empat praktik untuk menjaga kesehatan mental dan meningkatkan kekuatan mental, baik di tempat kerja maupun di rumah.

Baca Selengkapnya

Perlunya Ibu Jaga Kesehatan Mental saat Mengasuh Anak, Simak Saran Psikolog

8 hari lalu

Perlunya Ibu Jaga Kesehatan Mental saat Mengasuh Anak, Simak Saran Psikolog

Para ibu perlu menjaga kesehatan mental agar tetap nyaman ketika beraktivitas dan tenang ketika mengasuh anak.

Baca Selengkapnya

Polisi Tangkap Rio Reifan 5 Kali karena Narkoba, Sederet Bahaya Konsumsi Sabu

8 hari lalu

Polisi Tangkap Rio Reifan 5 Kali karena Narkoba, Sederet Bahaya Konsumsi Sabu

Artis Rio Reifan kelima kali ditangkap polisi karena kasus narkoba. Apa itu sabu dan bahaya menggunakannya?

Baca Selengkapnya