Gejala Penyakit Virus Marburg yang Perlu Dipahami

Reporter

Antara

Senin, 3 April 2023 20:39 WIB

Virus Marburg. Shutterstock

TEMPO.CO, Jakarta - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut virus Marburg penyebab penyakit virus Marburg (MVD) dapat menular dari antarmanusia melalui kontak langsung. Virus tersebut dapat menular melalui kulit yang rusak atau selaput lendir dengan darah, sekresi, organ atau cairan tubuh lain dari orang yang terinfeksi, dan melalui permukaan dan bahan, misalnya selimut dan pakaian yang terkontaminasi cairan tersebut.

Penularan melalui peralatan injeksi yang terkontaminasi atau luka jarum suntik dikaitkan dengan penyakit yang lebih parah, kerusakan yang cepat, dan kemungkinan tingkat kematian yang lebih tinggi. Masa inkubasi atau interval infeksi hingga timbulnya gejala bervariasi 2-21 hari. Orang yang tertular virus Marburg umumnya tiba-tiba merasakan gejala seperti demam tinggi, sakit kepala parah, dan rasa tidak enak badan yang parah, nyeri otot.

Pasien juga bisa terkena diare, sakit perut dan kram, mual dan muntah dapat dimulai pada hari ketiga. Diare bisa bertahan selama seminggu. Pada fase ini, mata pasien cekung, wajah tanpa ekspresi, dan rasa lesu yang ekstrem.

Gejala penyakit virus Marburg berat berupa perdarahan dapat terjadi pada hari kelima hingga ketujuh dan pada kasus fatal perdarahan terjadi di beberapa area. Perdarahan dapat terjadi di hidung, gusi, vagina, serta dapat keluar melalui muntah dan pada feses. Selama fase penyakit yang berat, pasien mengalami demam tinggi dan gangguan pada sistem saraf pusat sehingga dapat mengalami kebingungan dan mudah marah. Orkitis (radang testis) telah dilaporkan kadang-kadang pada fase akhir penyakit (15 hari).

Dalam kasus yang fatal, kematian paling sering terjadi antara 8-9 hari setelah timbulnya gejala, biasanya didahului kehilangan darah yang parah dan syok. Sampai saat ini belum ada vaksin untuk penyakit virus Marburg.

Advertising
Advertising

Pada Mei 2020, European Medicines Agency (EMA) telah memberikan otorisasi pemasaran kepada Zabdeno dan Mvabe untuk penyakit virus Ebola. Kedua jenis vaksin ini berpotensi melindungi terhadap penyakit virus Marburg tetapi efektivitasnya belum terbukti dalam uji klinis.

Virus bertahan di tubuh
Menurut WHO, virus Marburg diketahui masih dapat bertahan di sejumlah lokasi tubuh seperti testis dan bagian dalam mata pada beberapa penyintas. Pada wanita yang terinfeksi saat hamil, virus masih tetap ada di plasenta, cairan ketuban, dan janin. Sementara wanita yang terinfeksi saat menyusui, virus dapat bertahan dalam ASI.

Meski begitu, kekambuhan dengan gejala tanpa adanya infeksi ulang pada orang yang telah sembuh dari penyakit virus Marburg (MVD) termasuk jarang terjadi. Sementara itu pada air mani orang yang terinfeksi, virus bisa bertahan hingga tujuh minggu setelah pemulihan klinis. Oleh karena itu, WHO merekomendasikan penyintas pria harus didaftarkan dalam program pengujian air mani saat dipulangkan dalam waktu tiga bulan sejak timbulnya penyakit.

Semua penyintas Marburg dan pasangannya harus menerima konseling untuk memastikan praktik seksual yang lebih aman sampai air mani dua kali mendapatkan hasil negatif untuk virus Marburg. Mereka juga harus menjaga kebersihan diri setidaknya 12 bulan sejak timbulnya gejala atau sampai tes air mani dua kali terdeteksi negatif untuk virus Marburg.

Pencegahan
Kementerian Kesehatan memberikan sejumlah tips untuk mencegah terkena penyakit virus Marburg. Salah satunya mengurangi kontak dengan kelelawar reservoir virus Marburg. Apabila orang harus mengunjungi area habitat kelelawar tersebut maka dapat menggunakan sarung tangan dan alat pelindung lain seperti masker.

Masyarakat sebaiknya menunda perjalanan ke wilayah yang saat ini terjadi wabah seperti Guinea Ekuatorial dan Tanzania. Bila tidak memungkinkan, maka perhatikan risiko dan anjuran pemerintah wilayah atau negara tujuan. Selanjutnya, sebaiknya konsumsi daging yang matang, termasuk saat di daerah wabah virus Marburg, menghindari kontak dengan orang yang dicurigai atau terinfeksi, termasuk cairan tubuhnya.

Masyarakat disarankan mencuci tangan secara rutin, terutama ketika mengunjungi orang yang sakit atau setelah melakukan penanganan terhadap orang yang sakit di rumah. Bagi petugas kesehatan, sebaiknya terapkan pencegahan dan pengendalian infeksi (PPI).

Pilihan Editor: Inilah Penyebab dan Gejala Wabah Virus Marburg

Selalu update info terkini. Simak breaking news dan berita pilihan dari Tempo.co di kanal Telegram http://tempo.co/. Klik https://t.me/tempodotcoupdate untuk bergabung. Anda perlu meng-install aplikasi Telegram terlebih dahulu.

Berita terkait

Top 3 Tekno Berita Hari Ini: Aksi Mahasiswa UGM Tuntut Transparansi, IPK 4,00 Mahasiswa Kedokteran Universitas Jember, 5 Penyakit Akibat Polusi Udara di Indonesia

7 jam lalu

Top 3 Tekno Berita Hari Ini: Aksi Mahasiswa UGM Tuntut Transparansi, IPK 4,00 Mahasiswa Kedokteran Universitas Jember, 5 Penyakit Akibat Polusi Udara di Indonesia

Topik tentang mahasiswa UGM menggelar aksi menuntut tranparansi biaya pendidikan menjadi berita terpopuler Top 3 Tekno Berita Hari Ini.

Baca Selengkapnya

Lima Besar Penyakit Akibat Polusi Udara di Indonesia, Apa Saja?

1 hari lalu

Lima Besar Penyakit Akibat Polusi Udara di Indonesia, Apa Saja?

Polusi udara yang erat kaitannya dengan tingginya beban penyakit adalah polusi udara dalam ruang (rumah tangga).

Baca Selengkapnya

Alasan Bawang Merah Tetap Diburu Meski Mahal

10 hari lalu

Alasan Bawang Merah Tetap Diburu Meski Mahal

Bawang merah merupakan komoditi penting yang dibutuhkan masyarakat. Apa saja manfaatnya untuk kesehatan?

Baca Selengkapnya

Waspadai Cuaca Panas Ekstrem di Musim Pancaroba, Dampaknya Bisa Sampai Ginjal

11 hari lalu

Waspadai Cuaca Panas Ekstrem di Musim Pancaroba, Dampaknya Bisa Sampai Ginjal

Jika orang kehilangan kontrol temperatur internal karena cuaca panas ekstrem, mereka mungkin akan mengalami berbagai masalah kesehatan.

Baca Selengkapnya

Epidemiolog: Cacar Monyet Berpotensi Jadi Penyakit Endemik di Indonesia

13 hari lalu

Epidemiolog: Cacar Monyet Berpotensi Jadi Penyakit Endemik di Indonesia

Epidemiolog Dicky Budiman menyatakan, infeksi cacar monyet berpotensi menjadi penyakit endemik karena minimnya penanganan.

Baca Selengkapnya

Pemeriksaan Kehamilan Rutin Bantu Cegah Penularan Sifilis dari Ibu ke Janin

13 hari lalu

Pemeriksaan Kehamilan Rutin Bantu Cegah Penularan Sifilis dari Ibu ke Janin

Penyakit sifilis bisa menular dari ibu yang terinfeksi ke janinnya melalui plasenta. Pemeriksaan kehamilan bantu mencegah penularan itu.

Baca Selengkapnya

Penyebab Pneumothorax yang Dialami Winter aespa

19 hari lalu

Penyebab Pneumothorax yang Dialami Winter aespa

Winter aespa menjalani masa pemulihan untuk penyakit pneumothorax, apa saja penyebab dan gejalanya?

Baca Selengkapnya

Belum Ada Kasus Virus B di Indonesia, Kemenkes Tetap Minta Waspada

24 hari lalu

Belum Ada Kasus Virus B di Indonesia, Kemenkes Tetap Minta Waspada

Kemenkes menyatakan hingga kini belum terdeteksi adanya risiko kasus Virus B di Indonesia namun masyarakat diingatkan untuk tetap waspada

Baca Selengkapnya

Waspada Flu Singapura Menjangkit Anak-anak, Ini 6 Cara Pencegahannya

25 hari lalu

Waspada Flu Singapura Menjangkit Anak-anak, Ini 6 Cara Pencegahannya

Flu singapura rentan menjangkit anak-anak. Flu ini juga dengan mudah menular. Bagaimana cara mengantisipasinya?

Baca Selengkapnya

BRIN Kembangkan Teknologi Biosensor Portabel Pendeteksi Virus Hingga Pencemaran Lingkungan

25 hari lalu

BRIN Kembangkan Teknologi Biosensor Portabel Pendeteksi Virus Hingga Pencemaran Lingkungan

Pusat Riset Elektronika BRIN mengembangkan beberapa produk biosensor untuk mendeteksi virus dan pencemaran lingkungan.

Baca Selengkapnya