Batik Garuda Nusantara Diawali Jokowi, Diselesaikan di 8 Kota

Reporter:
Editor:

Mitra Tarigan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo atau Jokowi (kiri) bersama Ibu Negara Iriana Joko Widodo atau Jokowi (kanan) mencanting batik motif Gurdo di kain sepanjang 74 meter saat menghadiri kegiatan Batik Kemerdekaan di Stasiun MRT Bundaran HI Jakarta, Kamis, 1 Agustus 2019, ANTARA

    Presiden Joko Widodo atau Jokowi (kiri) bersama Ibu Negara Iriana Joko Widodo atau Jokowi (kanan) mencanting batik motif Gurdo di kain sepanjang 74 meter saat menghadiri kegiatan Batik Kemerdekaan di Stasiun MRT Bundaran HI Jakarta, Kamis, 1 Agustus 2019, ANTARA

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Joko Widodo alias Jokowi dan ibu Iriana telah menorehkan malam pertama pada kain Batik Garuda Nusantara sepanjang 74 meter di Stasiun MRT Bundaran HI pada 1 Agustus 2019. Setelah ini, kain tersebut rencananya akan dibawa keliling ke delapan sentra batik nusantara di Jawa, Sumatera. Kota yang akan disinggahi untuk menyelesaikan batik itu adalah Cirebon, Pekalongan, Solo, Yogyakarta, Lasem, Madura, Klungkung Bali, dan Jambi. Para pembatik di kota-kota tersebut akan melengkapi cantingan dan pewarnaan pada kain tersebut.

    Pada kain mori tersebut, sebagian kain sudah dilukis motif yang dipilih seperti Gurdo (Garuda), Parang, Kawung, dan Sekarjagad. Meski demikian, mereka memilik motif yang berhubungan dengan perdamaian dunia dan menghadirkan pakem batik. Motif batik dari daerah yang dikunjungi akan mengisi dan memperkaya motif Sekar Jagad. “Dari Cirebon misalnya ada megamendung, Basurek dari Jambi misalnya,” ujar Sandra salah satu pengurus Yayasan Tjanting Batik Nusantara saat konferensi pers di sekretariatnya di Trotoar Cafe di Kebayoran Baru, Jumat, 2 Agustus 2019.

    Pengurus Yayasan Tjanting Batik Nusantara membentangkan Batik Garuda Nusantara

    Mereka akan berkeliling ke berbagai sentra batik tersebut dan ditargetkan menyelesaikan pembatikan dalam teknik batik tulis dengan pewarnaan alam dalam 11 bulan ke depan. Setelah 74 meter dengan berat 10 kilogram ini selesai, rencananya mereka akan membawa batik ini ke kancah internasional.

    Ketua Umum Yayasan Tjanting Batik Nusantara Bonny Widjoseno menyatakan batik ini menjadi mahakarya batik nusantara dan menjadi ikon dari gerakan masyarakat Indonesia. “Untuk menciptakan Batik Perdamaian Dunia,” kata Ketua Umum Yayasan TBN Bonny Widjoseno.

    Kain batik nusantara ini tetap mengikuti motif pakem yang sudah ada, tidak menciptakan motif baru. Menurut Bonny, Jokowi memilih akun Gurdo menjadi salah satu motif yang ada di kain dan mengharapkan kain Batik Garuda Nusantara ini nanti menjadi ikon batik.

    Pada 1 Agustus 2019, Presiden Joko Widodo dan ibu Iriana menorehkan malam pertama pada kain Batik Garuda Nusantara di Stasiun MRT Bundaran HI. “Pak Jokowi yang memilih tempat tersebut dan ingin mendekat dengan masyarakat, jadi gerakan masyarakat,” ujar Bonny.

    Pada saat itu Jokowi menorehkan malam pada gambar atau motif Gurdo sedangkan Ibu Iriana menorehkan malam pada lukisan bunga. Motif yang sudah tertera di kain rupanya sudah disiapkan selama tiga bulan sebelumnya oleh seorang pembatik dari Pekalongan bernama Nurcahyo.

    Pola Batik Garuda Nusantara

    Ketua Dewan Pengawas Yayasan TBN Pheo Hutabarat mengatakan momen penorehan canting dan terciptanya wujud kain batik Garuda Nusantara bukan saja mengawali serangkaian HUT Kemerekaan RI ke-47 tahun 2019, melainkan juga bertepatan dengan dua momentum penting yang terjadi di 2019.
    Pertama, pada 2019, adalah momen perayaan 10 tahun diberikannya pengakuan batik oleh PBB untuk Pendidikan, keilmuan, dan kebudayaan atau Unesco. Sepuluh tahun lalu, pada 2009 Unesco memberikan pengakuan batik adalah warisan budaya dunia tak benda (masterpiece of the oral and the intangible heritage of humanity).

    “Pengakuan ini harus dipertahankan melalui kegiatan-kegiatan nyata agar batik tetap diakui UNESCO,” kata Pheo. Momentum ini dilanjutkan ketika Indonesia menjadi anggota Dewan Keamanan PBB dan saat itu hadirin termasuk Sekretaris Jenderal PBB pun ikut mengenakan batik. Batik adalah brand Indonesia yang diaku dunia. Sehingga sebagai masyarakat batik, Yayasan TBN terpanggil untuk ikut serta dalam program pemerintah yakni melesatkan batik ini ke internasional.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kenali Tanda Masker Medis yang Asli atau Palsu

    Saat pandemi Covid-19 seperti sekarang, masker adalah salah satu benda yang wajib kita pakai kemanapun kita beraktivitas. Kenali masker medis asli.