Senin, 10 Desember 2018

Mengapa Trauma Healing Korban Gempa Harus Maksimal? Ini Kata Ahli

Reporter:
Editor:

Susandijani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua KPAI Kak Seto bermain bersama anak-anak korban gempa tsunami Palu di kantor Dinas Sosial Palu, Sulawesi Tengah, Jumat, 5 Oktober 2018. <i>Trauma healing</i> dilakukan agar anak-anak ini dapat mengekspresikan keceriaannya kembali dan tidak meratapi semua kesedihan. ANTARA/Muhammad Adimaja

    Ketua KPAI Kak Seto bermain bersama anak-anak korban gempa tsunami Palu di kantor Dinas Sosial Palu, Sulawesi Tengah, Jumat, 5 Oktober 2018. Trauma healing dilakukan agar anak-anak ini dapat mengekspresikan keceriaannya kembali dan tidak meratapi semua kesedihan. ANTARA/Muhammad Adimaja

    TEMPO.CO, Jakarta - Trauma healing yang diberikan kepada para korban bencana tsunami dan gempa Palu Donggala, khususnya anak-anak harus maksimal. Begitu disebutkan Dokter Darurat Bencana Rosaline Rumaseuw di Warung Daun, Cikini, Jakarta Pusat pada Sabtu, 6 Oktober 2018. 

    Baca juga: Pentingnya Trauma Healing Bagi Korban Gempa, Ini Kata Psikolog

    "[Berbagai bencana itu membuat] mereka menganggap seolah-olah kematian semakin mendekat. [Mengatasi] sisi psikologis ini penting untuk menyembuhkan trauma," ujar Rosaline.

    Hal senada juga diungkapkan Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Seto Mulyadi atau Kak Seto. Ia menilai pemulihan trauma khususnya terhadap anak harus dilakukan guna menjamin kelangsungan generasi. Dia mengatakan, upaya pemulihan pascabencana ini untuk mencegah anak memiliki kepribadian buruk.

    Disebutkan juga, bahwa bencana yang disaksikan membuat jiwa [anak-anak] terguncang. Ujungnya, anak menjadi kurang percaya diri, cepat marah, mudah meledak-ledak secara negatif, penuh dengan masalah, tidak bisa bekerja sama, tidak percaya pada orang, sehingga potensi-potensi yang dimiliki akan redup.

    Di sisi lain, Direktur Program PKPU Human Initiative Tomy Hendrajati sudah melakukan langkah awal trauma healing dengan mengajak warga khususnya ibu-ibu untuk berpartisipasi memasak di dapur umum.

    "Biar mereka ada kesibukan, kami gerakkan agar mereka masak. Ini sebuah langkah trauma healing," kata Tomy

    Baca juga: Hapus Trauma, Lembaga ini Lakukan Kunjungan Rumah


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kementerian Kominfo Memblokir Situs-Situs dengan Konten Radikal

    Kementerian Komunikasi dan Informasi telah memblokir 230 situs dan menghapus ribuan konten radikal dari berbagai platform.