Batas Tipis Candaan atau Penghinaan

Reporter:
Editor:

Dini Pramita

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah orang tertawa bersama saat ikut berpartisipasi dalam acara tahunan Polar Bear Plunge pulau Coney di Brooklyn Borough New York City, AS, 1 Januari 2017. REUTERS

    Sejumlah orang tertawa bersama saat ikut berpartisipasi dalam acara tahunan Polar Bear Plunge pulau Coney di Brooklyn Borough New York City, AS, 1 Januari 2017. REUTERS

    TEMPO.CO, Jakarta - Seringkali kita tidak dapat membedakan ucapan seorang teman kepada kita yang mengundang gelak tawa hanya candaan atau mengandung unsur penghinaan sekaligus. Acapkali sebuah candaan justru menyulut permusuhan. 

    Baca: Heboh Khabib Nurmagomedov, Tilik 5 Jurus Menghadapi Penghinaan

    Ahli psikologi sosial dari University of Sydney Christopher John Hunt mengatakan seringkali ketika seseorang menyadari ucapannya menyakiti hati lain, akan berkata, "hanya bercanda." Menurut Hunt, ini merupakan strategi pertahanan paling lazim digunakan oleh seluruh penduduk bumi. "Sementara itu, orang yang keberatan dengan lelucon tersebut akan dianggap sebagai pembungkam kebebasan berbicara," kata dia.

    Menurut Hunt, seringkali orang tidak melihat bahaya yang tersimpan dalam sebuah lelucon dan ungkapan kasar. Dalam sebuah penelitian yang ia lakukan pada sekelompok remaja, ia menemukan penggunaan kata ‘homo’ dianggap hanya sebagai humor dan tidak dikaitkan dengan homophobia. “Padahal, tetap ada dampak halus yang tidak kita sadari ketika mengucapkannya meskipun tanpa ada maksud untuk menyerang,” kata dia.

    Ia membuktikannya lewat komentar-komentar seksisme yang diarahkan pada Julia Gillard yang membuat sebagian besar perempuan mengurangi minat mereka dalam politik dan kepemimpinan. “Ini menunjukkan bagaimana lelucon dan humor seksisme membuat perempuan enggan berbicara, atau menempatkan mereka di garis tembak yang lebih rawan lagi,” kata dia.

    Baca juga: Ditegur Sri Mulyani Karena Candaan Seksis, Anang Latif Buka Suara

    Hunt mengatakan humor tertentu sering digunakan untuk menguatkan ikatan sesama. Misalnya humor seksis dan homophobic yang dibuat oleh kelompok laki-laki. “Dalam hal ini, lelucon tersebut digunakan untuk mengikatkan ikatan karena perempuan dan laki-laki gay dianggap sebagai ‘yang lain’,” kata dia.

    Menurut dia, secara eksplisit hal ini menunjukkan adanya ejekan terhadap kelompok luar tersebut yang dianggap sebagai sesuatu yang konyol. “Seringkali ini menjadi ancaman yang mungkin tidak diakui,” kata dia. Hunt mengatakan, pada intinya, ketika seseorang tidak nyaman dengan lelucon yang dilontarkan maka hal tersebut patut dipertimbangkan apakah pantas disebut sebagai lelucon.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lolos ke Piala Eropa 2020, Ronaldo dan Kane Bikin Rekor

    Sejumlah 20 negara sudah memastikan diri mengikuti turnamen empat tahunan Piala Eropa 2020. Ada beberapa catatan menarik.