Perokok Pasif Berisiko 4 Kali Lebih Tinggi Terkena Kanker Paru

Reporter:
Editor:

Mila Novita

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi larangan merokok. Ulrich Baumgarten/Getty Images

    Ilustrasi larangan merokok. Ulrich Baumgarten/Getty Images

    TEMPO.CO, Jakarta - Rokok mengandung tiga zat berbahaya, yaitu nikotin yang membuat kecanduan, toksin alias racun, dan karsinogenik pemicu kanker. Sebatang rokok tembakau mengandung sekitar 4.000 jenis racun dan 60 zat karsinogenik yang bersifat langsung.

    Baca juga: Bagaimana Rokok Bisa Meningkatkan Risiko TBC?

    Zat-zat berbahaya itu tidak hanya mengancam perokok aktif, tapi juga perokok pasif atau orang yang tidak merokok tapi menghirup asap rokok. Salah satu penyakit kanker yang berhubungan langsung dengan rokok adalah kanker paru-paru.

    "Risiko kanker paling besar ada pada perokok aktif hingga 13 kali, tapi perokok pasif juga berpeluang terkena kanker paru-paru empat kali lebih besar dibandingkan dengan orang yang tidak merokok,” kata dokter spesialis paru dari Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia – RSUP Persahabatan, Dr. Sita Andarini, Sp.P (K), Ph.D di Jakarta, Selasa, 18 Juni 2019.

    Untuk diketahui, ketika diembuskan perokok, asap bisa bertahan di udara berjam-jam lamanya meski sudah tidak tercium atau terlihat. Racun asap rokok juga bisa menempel di benda-beda yang ada di ruangan, lalu terhirup oleh orang yang kontak dengan benda-benda tersebut.

    Bahayanya, banyak perokok pasif yang tidak menyadari dampak tersebut. Akibatnya, mereka lebih cuek dan tidak menjaga kesehatan. “Mereka merasa aman karena tidak merokok,” kata Dr. Sita.

    Baca juga: Rokok dan Masalah Gaya Hidup, Penyebab Utama Kanker Usus

    Ia menambahkan, banyak pasien kanker paru di RSUP Persahabatan yang sebenarnya tidak merokok, tapi mereka hidup di lingkungan perokok.



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.