Seniman dan Warga Jakarta Kehilangan Bioskop TIM

Reporter:
Editor:

Mitra Tarigan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pekerja memindahkan sejumlah barang ke atas kendaraan di depan bioskop XXI Taman Ismail Marzuki (TIM) yang per 19 Agustus 2019 sudah tidak beroperasi lagi, di Jakarta, Senin 19 Agustus 2019. Penutupan dan pemberhentian operasional salah satu bioskop milik jaringan 21 Cineplex Group itu selain karena masa kontrak yang sudah tidak diperpanjang lagi oleh Pempov DKI Jakarta juga imbas dari revitalisasi kawasan TIM. ANTARA FOTO/Aprillio Akbar

    Pekerja memindahkan sejumlah barang ke atas kendaraan di depan bioskop XXI Taman Ismail Marzuki (TIM) yang per 19 Agustus 2019 sudah tidak beroperasi lagi, di Jakarta, Senin 19 Agustus 2019. Penutupan dan pemberhentian operasional salah satu bioskop milik jaringan 21 Cineplex Group itu selain karena masa kontrak yang sudah tidak diperpanjang lagi oleh Pempov DKI Jakarta juga imbas dari revitalisasi kawasan TIM. ANTARA FOTO/Aprillio Akbar

    TEMPO.CO, Jakarta - Seniman Jose Rizal Manua juga menyimpan banyak kenangan di seputar gedung bioskop Taman Ismail Marzuki. Jose tahu betul bagaimana perubahan dan perkembangan gedung bioskop itu sejak awal dibangun. Pasalnya, ia memiliki toko buku yang berjajar dengan bioskop dan bersebelahan dengan Teater Graha Bakti Budaya tersebut.

    Sebelumnya, Bioskop TIM merupakan salah satu tempat pertunjukan film komersial tertua di Jakarta. Ada empat studio di bioskop ini, dengan kapasitas 139 kursi per studio. Bioskop XXI TIM resmi tutup pada Senin lalu. Pengelola kawasan TIM tidak memperpanjang kontrak gedung dengan manajemen Cinema XXI.

    Jose bercerita, dulu dia kerap menonton dan menggelar pertunjukan teater di gedung tersebut. Sebelum dikelola oleh Cinema 21, gedung itu memang berfungsi sebagai gedung Teater Besar. "Dulu kapasitasnya 1.000 orang," ucapnya.

    Jose juga sepakat gedung pertunjukan film itu diremajakan. "Supaya lebih baik, mengikuti perkembangan zaman," kata dia.

    Bukan hanya seniman, warga Jakarta juga banyak yang merasa kehilangan. Salah satunya adalah Pradnya Paramita. Ia mengaku sering menonton di sana sejak gedung bioskop itu masih bernama Cinema 21. "Tempatnya strategis. Kalau mau ke TIM enggak pakai ribet," ujar perempuan yang berprofesi fotografer itu.

    Nilai lebih lainnya, menurut Mita, bioskop TIM tidak menyatu dengan pusat belanja. Mita pun berharap, setelah kawasan TIM selesai dibenahi, pengelola membuka kembali bioskop dengan harga tiket terjangkau itu.

    Pemerintah DKI Jakarta menata kembali kawasan TIM dengan anggaran sekitar Rp 1,8 triliun. Padahal, kawasan TIM baru selesai direvitalisasi pada 12 Oktober 2017. Pemerintah DKI menunjuk PT Jakarta Propertindo untuk menggarap penataan besar-besaran kawasan itu.

    Project Director Taman Ismail Marzuki dari PT Jakarta Propertindo, Lucky Ismayanti, mengatakan masa kontrak bioskop XXI memang sudah habis. "Karena ada rencana perbaikan, tidak diperpanjang," ujar dia. Gedung bekas bioskop akan direvitalisasi pada tahap kedua.

    Revitalisasi fase pertama kawasan TIM ditargetkan selesai pada akhir 2020. Pada tahap pertama, revitalisasi menyasar area gedung parkir, taman di area depan, gedung perpustakaan, dan bangunan masjid baru. Setelah itu, revitalisasi akan berlanjut pada tahap kedua.

    Lucky menambahkan, gedung bioskop yang memutar film komersial akan dibangun lagi di kawasan TIM. "Gedung bioskop akan digabungkan menjadi pusat teater." Tapi, dia tak bisa memastikan apakah XXI akan kembali ke pusat pertunjukan seni budaya itu. "Cinema brand-nya masih diseleksi," ujar dia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lolos ke Piala Eropa 2020, Ronaldo dan Kane Bikin Rekor

    Sejumlah 20 negara sudah memastikan diri mengikuti turnamen empat tahunan Piala Eropa 2020. Ada beberapa catatan menarik.