Awas, Penyakit Paru Langka Akibat Vape

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang pria merokok vaporizer elektronik, juga dikenal sebagai e-cigarette atau vape, di Toronto, 7 Agustus 2015.[REUTERS / Mark Blinch]

    Seorang pria merokok vaporizer elektronik, juga dikenal sebagai e-cigarette atau vape, di Toronto, 7 Agustus 2015.[REUTERS / Mark Blinch]

    TEMPO.CO, Jakarta - Vape dipasarkan dengan embel-embel sebagai alternatif produk tembakau tradisional dan solusi bagi mereka yang ingin berhenti merokok. Namun, ternyata vape menimbulkan kematian tinggi dan peringatan kesehatan, khususnya di Amerika Serikat.

    Dokter yang memiliki pasien dengan penyakit paru langka umumnya menyebut hal ini terjadi karena paparan material besi. Namun, kemungkinan besar dalam waktu dekat penyakit ini juga akan diderita oleh pengguna rokok eletrik atau vape.

    Dikutip dari Channel News Asia, peneliti dari Universitas San Fransisco mengungkap pneumokoniosis, jenis penyakit yang umumnya ditemukan pada orang yang terpapar partikel debu logam seperti kobalt dan tungsten yang digunakan dalam pemolesan berlian ternyata berisiko pada pengguna vape. Penyakit ini umumnya memiliki gejala batuk terus menerus, sulit bernapas dan meninggalkan luka pada jaringan paru.

    "Pasien tidak diketahui pernah terpapar debu logam keras, jadi kami mengidentifikasi penggunaan rokok elektronik sebagai kemungkinan penyebabnya," ujar Kirk Jones, Profesor Klinis Patologi di UCSF.

    Studi kasus, yang diterbitkan dalam European Respiratory Journal memang mengungkap jika rokok elektronik yang dikonsumsi berbahan ganja, maka kandungan kobalt, nikel, aluminium, mangan, timbal, dan kromium pada alat pengisapnya mungkin juga terhirup.

    "Paparan debu kobalt sangat jarang di luar beberapa industri tertentu," kata Rupal Shah, asisten profesor kedokteran di UCSF.

    Editorial European Respiratory Society menegaskan satu-satunya cara adalah dengan berhenti merokok, baik itu tembakau tradisional ataupun vape. Profesor Kedokteran Pernapasan di Universitas Manchester, Inggrism Jorgen Vestbo pun mengatakan vape berbahaya dan menyebabkan kecanduan nikotin.

    Awal tahun ini, WHO juga memperingatkan bahwa perangkat rokok elektrik tidak diragukan lagi dapat membahayakan kesehatan. Pada Juni 2019, San Francisco menjadi kota di Amerika Serikat pertama yang secara efektif melarang penjualan dan pembuatan vape.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kobe Bryant Sang Black Mamba: Saya Tak Ingin Jadi Michael Jordan

    Pemain bola basket Kobe Bryant meninggal pada 26 Januari 2020, dalam kecelakaan helikopter di dekat Calabasas, California. Selamat jalan Black Mamba!