Isi Ulang Botol Minum Plastik, Kotornya Setara Dudukan Toilet

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi minum air mineral. Shutterstock

    Ilustrasi minum air mineral. Shutterstock

    TEMPO.CO, Jakarta - Banyak orang gemar mengisi ulang botol minum plastik dengan alasan tidak mau repot, tidak ingin membuang-buang waktu, dan masih banyak alasan lain sebagai pembenaran. Padahal, mengisi ulang botol minum plastik dapat menyebabkan tubuh terserang penyakit. Bahkan, sebuah penelitian menunjukkan hasil bahwa meminum air dari botol plastik yang sudah beberapa kali diisi ulang sama saja dengan menjilat dudukan toilet.

    Seperti yang dilansir dalam situs resmi Cosmo, meminum air dari sebuah botol minum plastik yang diisi ulang setidaknya selama satu minggu sama halnya dengan menjilat dudukan toilet. Cosmo melansir dari sebuah situs bernama Treadmillreviews.net, yang menunjukkan hasil uji botol minum plastik yang diisi ulang oleh seorang atlet selama satu minggu berturut-turut terbukti berbahaya bagi kesehatan. Pasalnya, satu dari jutaan botol minum plastik dilaporkan mengandung 900 ribu koloni bakteri per sentimeter.

    Jumlah bakteri dalam botol minum plastik tersebut bahkan jauh lebih banyak dari jumlah rata-rata bakteri pada dudukan toilet rumah Anda. Dalam penelitian tersebut, ditemukan sedikitnya 60 persen bakteri menyebabkan penyakit pada manusia.

    Jika Anda gemar mengisi ulang botol minum plastik dan kerap mengalami masalah kesehatan, sebaiknya hentikan kebiasaan buruk tersebut. Meski hasilnya membuat Anda berpikir dua kali sebelum mengisi kembali botol minum plastik, penelitian yang dilakukan tersebut tidak memberikan data yang jelas mengenai botol minum plastik apa yang digunakan untuk penelitian serta perbandingan apakah bakteri yang terdapat dalam botol plastik yang diisi ulang tanpa dicuci sama dengan bakteri yang ada di dalam botol minum plastik yang dicuci kemudian diisi berulang kali.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Arti Bilangan R(0) dan R(t) untuk Menerapkan New Normal

    Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Suharso Monoarfa mengatakan bahwa suatu daerah dapat melaksanakan New Normal bila memenuhi indikator R(0).