Heboh Virus Corona Menular lewat Udara, Ini Kata Dokter Paru

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi Virus Corona atau Covid-19. REUTERS/Dado Ruvic/Illustration/File Photo

    Ilustrasi Virus Corona atau Covid-19. REUTERS/Dado Ruvic/Illustration/File Photo

    TEMPO.CO, Jakarta - Masyarakat tengah dibuat khawatir dengan kabar penularan virus corona melalui udara. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) mengimbau masyarakat untuk tidak panik namun tetap waspada menyusul laporan terkait kemungkinan risiko transmisi COVID-19 melalui udara (airborne) dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

    "Dengan terdapatnya risiko penularan secara airborne, terutama pada ruangan tertutup, Perhimpunan Dokter Paru Indonesia mengimbau masyarakat tetap waspada dan tidak panik," kata Ketua Pengurus Harian PDPI dr. Agus Dwi Susanto.

    Selain mengimbau masyarakat untuk tidak panik, Agus juga mengajak masyarakat menghindari keramaian, baik di tempat tertutup maupun di terbuka. Kemudian, masyarakat juga disarankan untuk selalu memakai masker di mana saja dan kapan saja, bahkan ketika berada di dalam ruangan.

    Selain itu, PDPI juga mendorong terciptanya ruangan dengan ventilasi yang baik, dengan jendela yang dibuka sesering mungkin. Terakhir, ia mengajak masyarakat untuk tetap menjaga kebersihan tangan serta menghindari menyentuh wajah sebelum mencuci tangan dan tetap menjaga jarak pada aktivitas sehari-hari.

    Ia mengatakan WHO pada 9 Juli 2020 mengeluarkan panduan terbaru terkait transmisi virus corona baru yang memiliki perbedaan signifikan antara penularan melalui airbone dan droplet. Menurut laporan itu, penularan COVID-19 melalui airborne dapat mencapai jarak hingga lebih dari 1 meter dan dapat bertahan lama di udara sedangkan penularan melalui droplet dapat terjadi dalam jarak kurang dari 1 meter tetapi tidak bertahan lama di udara.

    Risiko tersebut, katanya, tentu sangat berimplikasi terhadap cara pencegahan dan pengendalian terhadap COVID-19 karena transmisi airborne dan droplet sangat berbeda. Selain itu, penelitian dilakukan di lingkungan fasilitas kesehatan tempat pasien COVID-19 dirawat, tetapi tidak dilakukan prosedur yang menghasilkan aerosol, melaporkan keberadaan RNA SARS-CoV-2 pada sampel udara.

    Namun, pada penelitian lain yang sama, baik di fasilitas kesehatan maupun nonfasilitas kesehatan, tidak ditemukan keberadaan RNA SARSCoV-2. Dalam sampel yang ditemukan virus, kuantitas virus yang terdeteksi dalam jumlah yang sangat kecil dalam volume udara yang besar dan satu studi menemukan virus tersebut di sampel udara dalam kondisi virus yang belum bisa bereplikasi.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Bandingkan Ledakan di Beirut dengan Bom Atom Hiroshima Nagasaki

    Pemerintah Lebanon meyakini ledakan di Beirut disebabkan 2.750 ton amonium nitrat. Banyak orang membandingkannya dengan bon atom Hiroshima Nagasaki.