Puasa Ayyamul Bidh, Puasa Hari-hari Putih dan Kisah Nabi Adam Saat Turun ke Bumi

Reporter:
Editor:

Rini Kustiani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi buka puasa. Shutterstock

    Ilustrasi buka puasa. Shutterstock

    TEMPO.CO, Jakarta - Umat Islam mengenal puasa ayyamul bidh sebagai puasa pada pertengahan bulan. Puasa ini berlangsung selama tiga hari di tanggal 13, 14, dan 15 pada setiap bulan qamariyyah atau kalender hijriyah.

    Mengutip informasi di laman resmi Nahdlatul Ulama, puasa ayyamul bidh adalah puasa sunah dengan pahala yang besar. Siapa yang menjalankan puasa tiga hari ayyamul bidh, maka sama dengan puasa selama sebulan. Sedangkan jika dilakukan setiap bulan, maka sama dengan puasa selama setahun penuh.

    Baca juga:
    Ulama Inggris: Vaksinasi Covid-19 Saat Ramadan Tidak Membatalkan Puasa

    Dalam hadits riwayat HR. Bukhari - Muslim, Rasulullah Muhammad bersabda, "cukup bagimu berpuasa selama tiga hari dalam setiap bulan, sebab kamu akan menerima sepuluh kali lipat pada setiap kebaikan yang kau lakukan. Karena itu, maka puasa ayyamul bidh sama dengan berpuasa setahun penuh."

    Kitab Umdatul Qari`Syarhu Shahihil Bukhari memuat sebab puasa di tengah bulan ini disebut puasa ayyamul bidh. Hal ini berkaitan dengan kisah Nabi Adam ketika diturunkan ke bumi dan seluruh tubuhnya terbakar oleh matahari sehingga menjadi hitam.

    Kemudian Allah memberikan wahyu kepadanya untuk berpuasa selama tiga hari, yakni di tanggal 13, 14, 15. Ketika berpuasa pada hari pertama, sepertiga tubuh Nabi Adam menjadi putih. Puasa hari kedua, sepertiganya lagi menjadi putih. Dan setelah puasa di hari ketiga, sepertiga sisanya menjadi putih.

    Pendapat lain menyatakan dinamakan puasa ayyamul bidh karena pada malam-malam tersebut bulan bersinar terang atau bulan purnama. Maka pada siang hari kondisi bumi tetap terang karena sinar matahari dan di malam hari juga terang karena sinar bulan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aman Ibadah Sholat Ramadan Saat Covid-19

    Pemerintah DKI Jakarta telah mengizinkan masjid ataupun mushola menggelar ibadah sholat dalam pandemi.