Bahaya Mengintai Jika Rutin Menggunakan Minyak Jelantah

Reporter:
Editor:

S. Dian Andryanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Minyak goreng. Pixabay.com/Congerdesign

    Minyak goreng. Pixabay.com/Congerdesign

    TEMPO.CO, Jakarta - Setelah lakukan penggorengan, minyak goreng sisa yang digunakan disebut sebagai minyak jelantah dengan kata lain minyak limbah bisa berasal dari jenis-jenis minyak goreng seperti minyak jagung, minyak sayur, minyak samin dan sebagainya.

    Pemakain minyak ini biasanya digunakan berulang untuk kebutuhan rumah tangga, pelaku usaha alasannya variatif sebab masih layak digunakkan hingga faktor penghematan biaya beli minyak makan. Namun tanpa disadari jika ditinjau dari komposisi kimianya, minyak jelantah mengandung senyawa-senyawa yang bersifat karsinogenik, yang terjadi selama proses penggorengan.

    Mengutip dari laman Universitas Gadja Mada, oleh dr Maria Selvester Thaedus, M.Biomed, mengatakan untuk keperluan memasak minyak jelantah sebab selama pemanasan minyak jelatah terjadi proses oksidasi dan polimerisasi asam lemak berkomplikasi hasilkan sifat toksis bagi sel tubuh yang dipicu oleh radikal bebas senyawa peroksida sehingga tidak direkomendasikan layak gunanya.

    Menurut standart mutu nasional Indonesia, minyak jelantah memiliki bilangan peroksida 20-40 meq/kg, dan minyak goreng bilangan peroksida yang terkandung maksimal berjumlah 10meq/1kg sesuai dengan SNI. 01-3741-2002.

    Angka  peroksida  yang disinggung pada  pembahasan di atas adalah untuk menentukan derajat kerusakan pada  minyak atau  lemak.  Jika angka peroksida dengan kadar yang tinggi berdampak pada turunnya kualitas minyak  goreng sehingga berbahaya bagi kesehatan, memicu berbagai risiko seperti kanker, diare, kerusakan oksidatif melalui peningkatan kadar serum malondialdehid (MDA), diikuti dengan peningkatan aktivitas superoksida dismutase (SOD).

    Baca: Minyak Jelantah Aman Dipakai Kembali Asalkan memenuhi Kriteria Ini

    Selain itu, juga merangsang proses peradangan hati melalui peningkatan ekspresi sitokin proinflamasi minyak jelantah juga menyebabkan perubahan histologik hati berupa adanya perlemakan hati atau steatosis. 

    Maka dengan sikap mawas akan penggunaan minyak goreng berulang seperti minyak jelantah merupakan upaya yang baik untuk melindungi keluarga dari penyakit menimbulkan kerusakan oksidatif bagi kesehatan dalam jangka waktu panjang dapat menimbulkan penyakit degeneratif dan keganasan. 

    TIKA AYU


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aman Ibadah Sholat Ramadan Saat Covid-19

    Pemerintah DKI Jakarta telah mengizinkan masjid ataupun mushola menggelar ibadah sholat dalam pandemi.