Dokter Sebut Tak Perlu Tes PCR Ulang untuk Pastikan Sembuh dari Covid-19

Reporter

Ilustrasi swab test atau tes usap Covid-19. REUTERS

TEMPO.CO, Jakarta - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), bahkan Kementerian Kesehatan RI sudah menerapkan orang tidak perlu tes PCR evaluasi kesembuhan Covid-19, terutama pada kondisi-kondisi gejala ringan atau tidak bergejala bagi yang isolasi mandiri. Aturan ini sudah ada sejak Juni 2020.

Spesialis penyakit dalam dan penggiat edukasi Covid-19, dr. RA Adaninggar, melalui laman Instagram menjelaskan pedoman tersebut digunakan setelah banyak penelitian. Pada awal-awal pandemi Covid-19, untuk mendiagnosis apakah orang terinfeksi virus corona atau tidak menggunakan PCR, juga untuk evaluasi kesembuhan harus menggunakan PCR dua kali dan hasil tes harus negatif.

Ternyata, secara logistik PCR tidak efektif dan tidak efisien untuk evaluasi kesembuhan. Dan negara lain turut merasakan hal yang sama.

“Dulu awal-awal, waktu saya merawat pasien, ada yang sampai empat bulan di rumah sakit karena PCR-nya masih positif terus. Akhirnya dilakukan penelitian, apakah memang yang positif ini virusnya masih hidup,” kata Ning.

Hasil penelitian secara konsisten menunjukkan lebih dari 10 hari, virus ini sudah mulai hancur karena adanya antibodi. Antibodi terbentuk sekitar 7-14 hari sehingga setelah ada antibodi virus menjadi tak aktif, akan hancur sendiri oleh antibodi, dan akhirnya tidak menular lagi karena sudah tidak hidup.

“Cuma memang PCR ini kelemahannya bisa mendeteksi materi genetik, di mana materi genetik ini tidak bisa dibedakan apakah asalnya dari virus yang masih utuh atau yang sudah rusak, misalnya,” jelas Ning.

Setelah ada penelitian tersebut, orang-orang dengan hasil positif itu dilakukan pembiakan di suatu media yang bisa membiakkan virus. Setelah 10 hari, 90 persen virus tidak tumbuh dan 10 persen masih ada. 10 persen ini diperkirakan pada orang-orang yang masih ada gejala.

Ning mengatakan jika masih menimbulkan gejala, berarti virus belum hilang total dan orang yang terinfeksi belum sembuh total. Dengan adanya penelitian ini, akhirnya dilakukan perubahan pada pedoman tersebut dan orang yang sudah sembuh dari Covid-19 tidak perlu melakukan PCR ulang. Tetapi, yang paling penting menurut Ning, orang yang sudah sembuh ini sudah melewati isolasi minimal 10 hari dan gejalanya harus hilang minimal tiga hari terakhir.

“Dan PCR yang positif-positif ini ternyata memang bisa berlangsung sampai tiga bulan karena bangkai virus masih melekat dan masih bisa terbaca, karena kabarnya virus ini memiliki cantolan yang lebih kuat,” katanya.

Dia juga menambahkan jika sudah mati, virus tidak akan mungkin dapat menyebabkan penyakit pada orang lain. Kemudian, untuk mengetahui apakah virus yang ada pada tubuh sudah mati, hanya bisa ditentukan oleh dokter.

“Artinya, nanti pasien ini harus kontrol ke dokter lalu diperiksa kondisinya. Kadang kita juga melakukan pemeriksaan tambahan seperti foto rontgen, lalu pemeriksaan laboratorium, di situ kita lihat parameter infeksinya apa sudah membaik, parameter inflamasi atau keradangannya sudah membaik. Kalau semua sudah normal, kondisi pasien juga sudah normal, badan sudah fit lagi, nafsu makan sudah baik, dia sudah sembuh,” tuturnya.

Baca juga: Cegah Penularan Covid-19 pada Lansia dengan Pakai Masker di Rumah






Honda Jepang Kembali Alami Gangguan Pasokan Suku Cadang, Produksi Dipangkas 40 Persen

10 jam lalu

Honda Jepang Kembali Alami Gangguan Pasokan Suku Cadang, Produksi Dipangkas 40 Persen

Honda menurunkan rencana produksi di dua pabrik di Jepang karena terkendala rantai pasokan dan logistik yang dipicu oleh wabah Covid-19.


Patogen dan Parasit, Apakah Berbeda?

22 jam lalu

Patogen dan Parasit, Apakah Berbeda?

Patogen dan parasit berkaitan menyebabkan penyakit


Ini yang Harus Dilakukan jika Anak Digigit Hewan Penular Rabies

1 hari lalu

Ini yang Harus Dilakukan jika Anak Digigit Hewan Penular Rabies

Dokter mengimbau orang tua melakukan sejumlah langkah berikut apabila anak digigit hewan penular rabies sebelum membahayakan nyawa. Apa saja?


Bahaya Diffuser dengan Campuran Cairan Antiseptik

1 hari lalu

Bahaya Diffuser dengan Campuran Cairan Antiseptik

Cairan antiseptik memiliki sejumlah kandungan yang membahayakan sehingga tak dianjurkan digunakan untuk campuran diffuser.


Begini Efek Setelah Mengidap Covid-19

1 hari lalu

Begini Efek Setelah Mengidap Covid-19

Usai mengidap Covid-19 ternyata dapat mempengaruhi fungsi kogitif otak. Apa efek samping lainnya?


PPKM Level 1 di Jawa-Bali dan Luar Jawa-Bali Diperpanjang hingga 7 November

2 hari lalu

PPKM Level 1 di Jawa-Bali dan Luar Jawa-Bali Diperpanjang hingga 7 November

Pemerintah memperpanjang pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) wilayah Jawa-Bali dan luar Jawa-Bali


Kasus Infeksi Enterovirus D68 Melonjak di AS, Virus Apa Itu?

3 hari lalu

Kasus Infeksi Enterovirus D68 Melonjak di AS, Virus Apa Itu?

Selama Agustus 2022 terjadi lonjakan kasus Enterovirus D68 (EV-D68) terkait infeksi pernapasan pada anak di Amerika Serikat. Apa itu virus EV-D68?


DKI Jakarta Penyumbang Tertinggi Kasus Positif Covid-19 Hari Ini

4 hari lalu

DKI Jakarta Penyumbang Tertinggi Kasus Positif Covid-19 Hari Ini

Jumlah kasus terkonfirmasi positif COVID-19 pada Ahad, 2 Oktober 2022, bertambah 1.322 kasus dengan provinsi penyumbang tertinggi DKI Jakarta.


Solidaritas dan Donor Darah Penghuni Apartemen Lavande

4 hari lalu

Solidaritas dan Donor Darah Penghuni Apartemen Lavande

Ratusan penghuni Apartemen Lavande Residences, Jakarta Selatan mengikuti kegiatan donor darah bertempat di lantai dasar apartemen.


Update Covid Hari Ini: Bertambah 1.857 Kasus, Meninggal 19 Orang

6 hari lalu

Update Covid Hari Ini: Bertambah 1.857 Kasus, Meninggal 19 Orang

Update Covid hari ini Jumat 30 September 2022 bertambah 1.857 kasus sehingga total mencapai 6.431.624 orang.