Terkena Corona Setelah Vaksin Covid-19 Pertama, Harus Tetap Ikut Vaksin Dosis 2

Reporter:
Editor:

Mitra Tarigan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bagikan Berita
    Ilustrasi Vaksinasi Covid-19. TEMPO/Hilman Fathurrahman

    Ilustrasi Vaksinasi Covid-19. TEMPO/Hilman Fathurrahman

    TEMPO.CO, Jakarta - Masih banyak masyarakat yang ogah melanjutkan vaksin Covid-19 kedua, karena terinfeksi Covid-19 setelah vaksin dosis pertama. Padahal studi menyebutkan bahwa kekebalan akibat sudah terinfeksi Covid-19 dengan pemberian vaksin itu berbeda.

    Jakarta, 15 Oktober 2021--Meski angka kasus COVID-19 di Indonesia mengalami tren melandai, namun cakupan vaksinasi sejatinya belumlah maksimal. Data per tanggal 12 Oktober 2021 dari Kementerian Kesehatan menunjukkan jumlah penduduk Indonesia yang mendapat vaksin dosis 1 baru mencapai 48,6 persen dan 28,04 persen untuk vaksin dosis 2. Karena itu berbagai upaya terus dilakukan untuk mengoptimalkan cakupan vaksinasi agar semua masyarakat terlindungi dari COVID-19.

    Guru Besar Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Rini Sekartini, menyebutkan saat ini cakupan imunisasi, terutama di Jakarta sudah di atas 80 persen. Pada kelompok dewasa bahkan sudah di atas 100 persen, dengan rincian vaksin pertama di atas 90 persen, dan vaksin kedua sudah di atas 80 persen.

    Walaupun sudah ada beberapa negara yang memberikan vaksin Covid-19 kepada anak usia di bawah 12 tahun, di Indonesia hal itu masih dalam penelitian. Salah satu vaksin yang sedang diteliti untuk diberikan kepada anak adalah vaksin buatan Biofarma. "Namun, penelitian dilakukan bertahap mulai dari dewasa, lansia, dan baru anak-anak. Diharapkan tahun depan sudah ada hasilnya," kata Rini dalam acara #GoodTalkSeries IG Live kolaborasi Good Doctor dengan Sentra Vaksinasi Serviam, Kamis 14 Oktober 2021,.

    Acara yang dipandu oleh Tantri Moerdopo, dari Sentra Vaksinasi Serviam ini mengupas tuntas vaksinasi untuk penyintas COVID-19. Menurut Dokter Spesialis Penyakit Dalam dari Good Doctor, Jeffri Aloys Gunawan menatakan bagi penyintas, ada perubahan regulasi, dulu 3 bulan setelah kena COVID-19 baru bisa divaksin, tapi sekarang 1 bulan sudah bisa. Memang perubahan seputar COVID-19 sangat dinamis. Segala informasi tentang COVID-19 terus diperbarui sesuai kajian ilmiah terbaru.

    “Syaratnya, penyintas dengan gejala ringan-sedang, bisa divaksin 1 bulan setelah dinyatakan sembuh. Bagi yang mengalami gejala berat, harus menunggu 3 bulan dengan catatan harus bebas dari long COVID dan kondisi sudah stabil tanpa gejala sisa. Konsultasikan dulu dengan dokter sebelum vaksinasi. Untuk pilihan vaksinnya, bisa apa saja yang tersedia,” ujar Jeff.

    Jika pasca vaksin pertama, terkena Covid-19, setelah sembuh, Jeff mengingatkan agar pasien segera melakukan vaksin dosis kedua. Ia mengingatkan agar jangan sampai ada masyarakat yang ogah mengambil dosis kedua vaksin karena merasa sudah kebal setelah terkena Covid-19. Menurutnya, kekebalan yang diberikan dari infeksi alami berbeda dengan kekebalan yang diberikan karena virus yang dilumpuhkan dalam vaksin. "Ada studi yang menunjukkan bahwa kekebalan yang muncul dari infeksi alami, tidak sama dengan yang muncul dari vaksinasi. Studi itu menyebutkan, kekebalan yang terbentuk lebih bagus dari vaksin, karena di dalam vaksin ada ajuvan (zat tambahan) khusus, yang membuat efek kekebalannya jauh lebih bagus daripada infeksi alami. Meski sudah kena varian Delta, tetap saja harus vaksinasi. Apalagi kalau yang baru dapat 1 dosis,” kata Jeff.

    Menurutnya, vaksin Corona baru, Zifivax merupakan vaksin ke-10 yang mendapatkan izin edar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Sudah ada uji klinis fase 3, dengan efikasi 81,7persen. Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) yang dialami pun relatif ringan, tidak ada yang berat atau serius. “Penggunaannya masih diperuntukkan 18 tahun ke atas, sesuai kriteria uji klinis. Vaksin ini cukup ampuh melindungi dari varian Delta, tapi belum bisa didapatkan di pasaran, karena perlu waktu untuk distribusinya. Kabar baiknya, vaksin ini nanti akan diproduksi sendiri oleh Indonesia. Diharapkan awal November nanti sudah tersedia,” ujar Jeff.

    Sementara itu, vaksinasi untuk ibu hamil di Indonesia baru ada 3 jenis vaksin yang disetujui yaitu Pfizer, Moderna, dan Sinovac. Diharapkan akan lebih banyak lagi vaksin yang disetujui untuk ibu hamil, agar lebih banyak pilihannya. “Menurut studi, ibu hamil yang kena COVID-19, risiko kematian meningkat sampai 70 persen. Jadi segeralah divaksin. Syaratnya, minimal 13 minggu kehamilan. Vaksinasi COVID-19 tidak boleh dilakukan di trimester 1 kehamilan,” kata Jeff.

    Untuk ibu menyusui, lebih leluasa. Bisa memakai vaksin yang ada di Indonesia. Masih banyak yang takut, nanti ada komponen vaksin yang masuk ke ASI lalu ditelan oleh bayi. Hal ini tidak benar. Dari penelitian, tidak terbukti terjadinya hal tersebut. Yang masuk ke bayi melalui ASI hanyalah antibodi yang terbentuk dari hasil vaksin pada ibu. Jadi ibu tidak perlu takut, bisa menyusui seperti biasa. Jauh lebih baik divaksin daripada tidak divaksin.

    Baca: Awas, Komplikasi Diabetes Akut Bisa Terjadi Bila Pasien Terinfeksi Covid-19


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pemerintah Larang WNA dari 11 Negara Masuk untuk Cegah Varian Omicron

    Pemerintah telah berupaya membendung varian Omicron dari Covid-19. Luhut Binsar Pandjaitan menegaskan, pemerintah sudah membuat sejumlah kebijakan.